Tuesday, August 7, 2012

TPKI STAIN Samarinda Part 1 bab I-III

BAB I
KETENTUAN UMUM
1.      Skripsi
a.       Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang ditulis dalam rangka menyelesaikan studi program Sarjana Strata 1 (S.1);
b.      Karya tulis ini merupakan pengungkapan tertulis dari hasil penelitian yang dilakukan secara sistematis dan metologis, sesuai dengan kompetensi program studi/jurusan.
2.      Proposal
Rencana usulan penelitian yang ditulis mahasiswa dalam rangka menyelesaikan skripsi, sesuai dengan kompetensi jurusan dan program studi
3.      Ujian Komprehensif
Ujian komprehensif diselenggarakan dengan sistem majelis setelah mahasiswa menyelesaikan semua ujian mata kuliah dan praktikum, sebagai prasyarat untuk ujian komprehensif.
4.      Munaqasah
a.       Ujian skripsi merupakan kegiatan akhir dari seluruh kegiatan akademik, sebelum mahasiswa di wisuda;
b.      Ujian skripsi dilaksanakan apabila mahasiswa telah dinyatakan lulus ujian komprehensif, dan naskah skripsinya telah siap untuk dimunaqasahkan.
5.      Sistem majlis adalah suatu sistem ujian yang menghadirkan seorang peserta ujian (komprehensif/munaqasah) untuk diuji dihadapan para penguji yang terdiri dari ketua, sekretaris, dan dua penguji utama secara bersamaan.


BAB II
PROSEDUR DAN SYARAT PENGAJUAN
USULAN PENELITIAN

A.    Pengajuan Usulan Penelitian
  1. Mahasiswa memprogram skripsi pada waktu mengajukan rencana studi;
  2. Mahasisma mengajukan Rancangan Usulan Penelitian kepada Ketua Jurusan;
  3. Rancangan Usulan Penelitian sekurang-kurangnya memuat:
a.       Rencana Judul;
b.      Latar Belakang Masalah;
c.       Rumusan Masalah;
d.      Tujuan Penelitian;
e.       Sistematika Penelitian Sementara.
  1. Rancangan Usulan Penelitian yang telah disetujui Ketua Jurusan/Program Studi, selanjutnya ditunjuk dosen pembimbing sesuai dengan kompetensi keilmuan yang dimiliki;
  2. Penunjukan dosen pembimbing dilakukan melalui surat penunjukan oleh Ketua Jurusan;
  3. Proposal penelitian dapat diseminarkan setelah mendapat persetujuan Ketua Jurusan Tarbiyah;
  4. Mengikuti seminar proposal skripsi yang sesuai dengan jadwal yang ditentukan oleh jurusan.

B.     Syarat Pengajuan Usulan Penelitian Skripsi
  1. Pengajuan usulan penelitian skripsi dapat dimulai oleh mahasiswa yang telah menyelesaikan 120 SKS dengan indeks prestasi akademik sekurang-kurangnya 2.00 dan telah lulus mata kuliah Metodologi Penelitian dengan nilai sekurang-kurangnya C;
  2. Usulan penelitian skripsi ditulis sendiri oleh mahasiswa dengan dibimbing oleh seorang dosen pembimbing (Pembimbing I). Jika dipandang perlu dapat didampingi oleh seorang dosen pembimbing lain (Pembimbing II).
  3. Usulan penelitian skripsi ditulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia, sedangkan untuk untuk Jurusan Tadris Bahasa Inggris ditulis dengan menggunakan bahasa Inggris.

C.    Proposal Penelitian
Proposal penelitian skripsi sekurang-kurangnya memuat:
I.             Judul Penelitian
II.          Latar Belakang Masalah
III.       Rumusan Masalah
IV.       Tujuan Penelitian
V.          Definisi Operasional
VI.       Kajian Pustaka
VII.    Hipotesis Penelitian (Penelitian Kuantitatif)
VIII. Metode Penelitian
A.    Pendekatan Penelitian (Penelitian Kualitatif)
B.     Variabel dan Indikator Penelitian (Penelitian Kuantitatif)
C.     Teknik Pengambilan Sampel (Penelitian Kuantitatif)/sumber data
D.    Teknik Pengumpulan Data
E.     Teknik Analisis Data
IX.       Sistematika Laporan Penelitian
X.          Daftar Pustaka

D.    Permohonan Ijin Penelitian
1.       Permohonan izin penelitian ini terutama bagi mahasiswa yang akan mengadakan penelitian lapangan pada instansi, lembaga atau wilayah teritorial tertentu, sedang bagi mahasiswa yang akan mengadakan penelitian kepustakaan (library research) tidak merupakan keharusan.
2.       Permohonan izin penelitian ini dilakukan jika objek penelitian sudah bersedia menjadi objek/tempat penelitian.
3.       Permohonan izin penelitian dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a.       Mengajukan kepada Ketua STAI Sangatta melalui Ketua Jurusan Tarbiyah dengan menunjukkan usulan penelitian yang sudah disahkan oleh Pembimbing dan Ketua Jurusan.
b.      Mahasiswa mengisi blangko Surat Izin Penelitian yang sudah disediakan rangkap 3 (tiga). Pengisian blangko ini dilakukan sendiri oleh mahasiswa, kemudian diserahkan kembali ke Jurusan untuk ditanda tangani oleh Ketua STAI Sangatta, c.q. Pembantu Ketua I Bidang Akademik.
 
BAB III
BIDANG KAJIAN SKRIPSI


A.    Ruang Lingkup dan Bentuk Kajian Skripsi
  1. Tema skripsi diangkat dari permasalahan yang relevan dengan kompetensi jurusan/program studi mahasiswa;
  2. Bentuk kajian skripsi antara lain berupa: (1) Survei; (2) Eksperimen; (3) Penelitian Teoritik/Kepustakaan; (4) Analisis Isi (Content Analysis); (5) Expost Facto; (6) Penelitian Historis; (7) Penelitian Tindakan (Action Research), dan; (8) Penelitian lainnya yang mengacu pada epistemologi keilmuan

B.     Teknik Penulisan Skripsi
  1. Penulisan skripsi menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar mengacu pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD);
  2. Penulisan skripsi jurusan/program Tadris Bahasa Inggris harus menggunakan Bahasa Inggris.
  3. Informasi disajikan dengan bahasa yang lugas, sederhana , tepat, dan langsung pada persoalan yang dibicarakan;
  4. Penulisan istilah yang berasal dari bahasa asing dan daerah dengan huruf miring (italic), seperti kata fiqh al-lughah (fiqh al-lughah), dan drop out (drop out), gugur gunung (gugur gunung);
  5. Untuk menghindari subjektivitas, penulisan skripsi tidak diperbolehkan menggunakan kata ganti saya, aku, kami atau kita kecuali dalam kata pengantar.
  6. Penulisan ayat al-Qur’an dan teks al-Hadis disesuaikan dengan aslinya, memperhatikan tanda-tanda baca yang tertera, disertai syakalnya dengan menggunakan mushaf utsmani serta menyebutkan nama surat dan nomor ayat untuk teks al-Qur’an dan nama perawi untuk teks al-Hadis.

C.    Bentuk dan Format Penulisan Skripsi
  1. Naskah skripsi minimal 50 halaman, tidak termasuk halaman judul, pengesahan, abstrak, persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar pustaka dan lampiran-lampiran pendukung skripsi;
  2. Kertas yang dipergunakan untuk penulisan skripsi adalah kerta ukuran Kuarto (A4) ukuran 21,5 x 29,7 cm dengan berat 70-80 gram;
  3. Batas marginal kiri atas 4 cm dan margin kanan bawah 3 cm;
  4. Naskah skripsi diketik dengan jenis huruf Times New Roman dengan ukuran huruf (font) 12;
  5. Tulisan Arab diketik dengan menggunakan jenis huruf (font) Traditional Arabic dengan ukuran huruf 18;
  6. Setiap satu lembar kerta kuarto hanya dipergunakan satu halaman saja (tidak bolak balik) diketik dengan jarak 1,5 spasi;
  7. Alinea baru dimulai dengan ketukan ketujuh dari margin kiri;
  8. Judul skrispi ditulis dengan huruf kapital (besar) di tengah, ukuran huruf dengan menggunakan estetika penulisan;
  9. Judul  bab ditulis dari tepai kiri, awal kata menggunakan huruf kapital, demikian juga anak sub judul atau sub anak judul disusun sedemikian rupa dengan memperhatikan estetika penulisan;
  10. Sampul skripsi menggunakan kertas bufalo atau sejenisnya dijilid tebal dan dilapisi plastik (hard cover) dengan huruf timbul warna tinta hitam;
  11. Sampul skripsi berwana coklat muda sesuai dengan warna bendera STAI Sangatta Kutai Timur Kalimantan Timur.
  12. Penomoran halaman dimulai dari Bab I sampai akhir laporan skripsi menggunakan angka Arab (1, 2, 3, dst.) diletakkan di sebelah kanan atas, kecuali nomor halaman bab baru diletakkan di tengah bagian bawah, sub judul ditulis dari tepi kiri, awal kata menggunakan huruf kapital, kecuali kata penghubung/kata sambung, demikian juga anak sub judul atau sub anak judul disusun sedemikian rupa dengan memperhatikan estetika penulisan, sedangkan pada halaman judul sampai halaman daftar isi menggunakan huruf Romawi kecil (seperti i, ii, iii dst.) yang diletakkan di tengah bagian bawah.
  13. Penomoran tabel atau gambar diberi nomor urut dengan angka Arab (Tabel 1, Tabel 2, Tabel 3 dst.), dan ditulis dengan huruf tebal (bold);
  14. Nomor kutipan atau catatan kaki pada masing-masing bab ditulis berturut-berturut sampai akhir bab dan dimulai kembali dengan nomor satu pada bab berikutnya;
  15. Abstrak skripsi diketik 1 spasi maksimal 2 halaman, ditulis dalam bahasa Indonesia.

D.    TEKNIK NOTASI ILMIAH
1.      Kutipan
Kutipan terdiri dari dua macam, yaitu:
a.       Kutipan langsung
1)      Kutipan langsung adalah kutipan yang sama dengan bentuk asli yang dikutip, baik dalam susunan kata maupun tanda bacanya. Kutipan langsung tidak dibenarkan lebih dari satu halaman. Kutipan langsung dipergunakan hanya untuk hal-hal yang penting saja, seperti definisi atau pendapat seseorang yang khas.
2)      Kutipan langsung yang tidak lebih dari empat baris, diketik biasa dalam teks skripsi dengan diawali dan diakhiri oleh tanda petik (“) dan diberi nomor kutipan, yaitu dengan pola catatan kaki (footnote). Ini dimaksudkan jika diperlukan notasi dapat lebih leluasa dan memudahkan pembaca. Kutipan yang lebih dari empat diketik dengan masuk (menjorok) tujuh ketukan dan tidak dibubuhkan tanda petik, serta ditulis dengan jarak 1 spasi. Kutipan terjemah al-Qur’an dianggap kutipan langsung, diketik 1 spasi, meskipun kurang dari empat baris, tidak ditulis miring dan tidak menyebut kata Artinya;
b.      Kutipan tidak langsung
Kutipan tidak langsung (parafrase) adalah kutipan yang hanya mengambil isinya saja, seperti saduran, atau ringkasan. Dalam kutipan semacam ini, penulis tidak perlu memberikan tanda petik, ditulis seperti teks biasa dengan menyebut sumber pengambilannya;
c.       Sumber kutipan merujuk pada ilmuwan yang ahli dalam bidangnya;
d.      Kutipan skripsi di antaranya harus mencakup minimal tiga sumber/buku berbahasa asing (bahasa Arab dan Inggris) yang terkait dengan pokok bahasan, tidak termasuk kamus;
e.       Kutipan tafsir dan hadis harus bersumber pada kitab asli (sumber primer);
f.       Kutipan dapat bersumber dari internet atau Compax Disk (CD) dengan mencantumkan situs dan menunjukkan print outnya.

2.      Catatan Kaki (Footnote)
a.       Catatan kaki merupakan catatan pada bagian kaki halaman teks yang menyatakan sumber sesuatu kutipan atau pendapat mengenai sesuatu hal yang diuraikan dalam teks;
b.      Catatan kaki dapat berfungsi sebagai tambahan yang berisi komentar atau penjelasan yang dianggap tidak dapat dimasukan di dalam teks. Catatan kaki diketik satu spasi dan dimulai langsung dari margin kiri untuk tulisan Latin dan margin kanan untuk tulisan Arab, dimulai pada ketukan kelima di bawah garis catatan kaki. Contoh:


 
[1]Keterbatasan pengetahuan manusia tentang dirinya disebabkan beberapa hal, yaitu: (1) pembahasan tentang masalah manusia terlambat dilakukan. Karena pada mulanya perhatian manusia hanya tertuju pada penyelidikan tentang alam materi, (2) ciri khas akal manusia yang lebih cenderung memikirkan hal-hal yang tidak kompleks. Ini disebabkan oleh sifat akal manusia, sebagaimana yang dinyatakan oleh Bergson, yakni tidak mampu mengetahui hakekat hidup, (3) multikompleksnya masalah tentang manusia. Sedangkan alasan lainnya adalah bahwa manusia merupakan satu-satunya makhluk yang dalam unsur penciptaannya terdapat ruh Ilahi, sedangkan manusia tidak diberi pengetahuan tentang ruh kecuali sedikit (Q.S. Al Isra’ : 85 ). Lihat, M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 277-278.

c.       Catatan kaki pada tiap bab diberi nomor urut mulai dari angka 1 (Arab) sampai habis, dan diganti dengan nomor 1 kembali pada bab baru;
d.      Cara penulisannya secara berurutan: nama pengarang (tanpa gelar dan tidak dibalik), koma, judul sumber/buku (judul sumber/buku ditulis dengan huruf kapital setiap awal kata dan ditulis miring, koma, jilid/jus, koma, kurung buka kemudian tempat/kota penerbit, titik dua, nama penerbit, koma, tahun terbit kemudian kurung tutup, koma, nomor cetakan, koma, dan nomor halaman diakhiri dengan titik. Contoh

1Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), Cet. 1, hlm. 18.
2Portlan House, Webster Encyclopedic Unabriged Dictionary of the Engglish Language, (New York: a Divisiotion of Dilithium Press, 1989), p. 304.

e.       Rujukan yang menggunakan terjemahan ditulis: nama pengarang, koma, buku/kitab asli dan tulis miring, koma, kata “terj.”, koma, penterjemah, koma, judul terjemahan, koma, kurung buka, koma, kota penerbit, koma, nama penerbit, kurung tutup, koma, nomor cetakan, koma, nomor halaman, dan diakhiri dengan titik. Contoh:

3Moh. Athiyah al-Abrasi, al-Tarbiyah al-Islamiyyah, terj. Bustami A. Ghoni dan Djohar Bahry,  Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), hlm. 114.

f.       Nama pengarang yang jumlahnya terdiri dari dua orang, maka kedua nama itu ditulis. Apabila lebih dari dua orang, hanya disebutkan nama pengarang yang pertama dan setelah tanda koma dituliskan singkatan et. al. ditulis dengan huruf miring (italic) atau dkk. Contoh:

4Muslim Nurdin., et. al., Moral dan Kognisi Islam: Buku Teks Agama Islam untuk Perguruan Tinggi Umum, (Jawa Barat: Alfabeta, 2001), Edisi Revisi, hlm. 29-31.
g.      Kumpulan karangan yang di rangkum oleh editor, yang dianggap pengarangnya atau yang dicantumkan dalam catatan kaki nama editor saja. Caranya dibelakang nama editor itu dicantumkan "ed." dengan italic (ed.). Bila editornya lebih dari satu, maka diberi tambahan "s" (eds.). Contohnya:

5Ahmad Tafsir (ed.), Pendidikan Agama dalam Keluarga, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 49.
h.      Apabila dari sumber yang sama dikutip lagi pada halaman yang sama, maka cukup dengan "Ibid." (dicetak miring) tanpa menyebutkan halamannya lagi. Ibid singkatan dari lbidem yang berarti pada tempat yang sama. Sedangkan bila dari sumber yang sama dikutip lagi pada halaman yang berbeda, rnaka dalarn catatan kaki ditulis: Ibid., lalu disebutkan halamannya. Contoh:

6Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), Cet. 1, hlm. 37.
7Ibid. (bila mengutip pada halaman yang sama).
8Ibid., hlm. 21(bila mengutip pada halaman yang berbeda).

i.        Apabila dari sumber tersebut dikutip lagi, tetapi telah diselingi oleh kutipan dari sumber lain, maka pada catatan kaki ditulis: Nama pengarang, judul buku/sumber (jika ada lebih dari satu buku), op.cit., (italic) diikuti dengan hlm. Adapun op.cit. singkatan dari "opere citato" yang artinya dalam karangan yang telah disebut. Namun, apabila dari halaman yang sarna dikutip lagi, tetapi telah diselingi kutipan dari sumber lain, maka ditulis loc. cit, tanpa menyebutkan halaman. loc.cit. adalah singkatan dari "loco citato" yang artinya pada tempat yang telah dikutip). Contoh:

9Abudin Nata, Paradigma Pendidikan Islam, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Jakarta: PT. Grasindo, 2001), hlm. 132.
10Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2000), hlm. 12.
11Abudin Nata, op. cit., hlm. 154.
12Nana Sudjana, loc. cit.

j.        Apabila buku itu berjilid dan yang digunakan lebih dari satu jilid, maka bila ingin menyebutkan lagi sumber yang terdahulu harus dicantumkan nama pengarang dan nomor jilidnya. Contoh:

13Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid 1, (Jakarta: UI Press, 1973), Cet. 3, him. 12.
14Ibid., Jilid 2, hlm. 15.
15Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid 2, (Jakarta: UI Press, 1973), Cet. 3, him. 97.
16Umar Tirtaraharja, Pengantar Pendidikan I, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm. 54.
17Harun Nasution, loc. cit., Jilid 2.

k.      Kutipan yang berasal dari buku yang berbentuk bunga rampai (antologi) atau kumpulan tulisan dari beberapa penulis, maka penulisanya adalah: nama penulis, koma, tanda petik (“), judul tulisan, dan tidak miring, tanda petik (“), koma, dalam, nama editor, koma, judul buku (italic), koma, kurang buka, tempat terbit, titik dua, nama penerbit, koma tahun terbit, kurung tutup, koma, dan halaman dan diakhiri dengan titik. Contoh :

18Imam Suprayogo, “Tradisi Ulama dalam Perguruan Tinggi”, dalam M. Anies (eds.), Religiusitas Iptek: Rekonstruksi Pendidikan dan Tradisi Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), Cet. 1, hlm. 156.

l.        Kutipan yang berasal dari majalah ditulis sebagai berikut: narna penulis, koma, judul artikel diapit tanda petik ("---"), koma, nama majalah ditulis italic, koma, volume, koma, nomor edisi, koma, bulan, koma, tahun terbit, koma, nomor halaman, dan diakhiri dengan titik. Contoh:
19Syaiful Faizin, “Kiat Memperoleh Anak Saleh dan Kompetitif”, Majalah Rindang, XXVII, No. 11, Juni, 2003, hlm. 29.

m.    Kutipan yang berasal dari surat kabar cara penulisannya adalah: nama penulis, koma, judul artikel diapit tanda petik (“---“), koma, nama surat kabar ditulis miring, koma, tempat terbit, koma, tanggal, bulan dan tahun terbit, koma, dan diakhiri dengan nomor halaman sesuai sumbernya. Contoh:

20Zamroni’, “Agama dalam Konstruksi Masyarakat Perkotaan”, Gazebo, Sangatta, 4 Juli 2010, hlm. ix.

n.    Kutipan yang berasal dari karya ilmiah yang tidak/belum diterbitkan, cara penulisannya adalah: nama pengarang, koma, judul karangan ilmiah dengan diapit tanda petik (“---“), koma, disebutkan skripsi, tesis atau disertasi, koma, kurung buka, nama kota penyimpanan, titik dua, nama tempat penyimpanan, koma, tahun penulisan, koma, kurung tutup, koma, keterangan tidak diterbitkan yang disingkat dengan “t.d.”, koma, nomor halaman, dan diakhiri dengan titik. Contoh:

21Mukhlis, Paradigma Pengembangan Fitrah Nafsaniah Manusia: Kajian Filosofis, Edukatif dan Psikologis”, Tesis Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang, (Semarang: Perpustakaan Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang, 2007), hlm. 23, t.d.

o.      Kutipan yang berasal makalah yang disajikan dalam seminar, penataran, atau lokakarya penulisannya adalah: nama penyusun, judul karangan ilmiah dengan diapit tanda petik (“---“), koma, tempat penyajian makalah, koma, lembaga dan tempat penyelenggara, koma, tanggal, bulan dan tahun, dan diakhiri dengan titik. Contoh:

22Siti Muri’ah, “Peningkatan Peran Wanita di Era Otonomi Daerah”, Makalah Disampaikan dalam Seminar Gender dan Otoda, Setda Kaltim, Samarinda, 1-2 September 2005.

p.      Kutipan yang berasal dari buku/kitab yang asli dan terjemahnya, angka kutipan diletakkan di belakang terjemah, sedangkan kutipan yang berasal dari buku/kitab berbahasa asing tanpa terjemah, maka angka kutipan diletakkan dibelakang kutipan tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk membedakan antara terjemahan dari penerjemah dan penulis skripsi sendiri.
q.      Surnber kutipan yang tidak ada tempat terbitnya, maka tempat terbitnya ditulis dengan singkatan “t.tp.”. Jika tidak ada penerbitnya, maka nama penerbit ditulis dengan singkatan “t.p.”, dan jika tidak ada tahun terbitnva, maka ditulis “t.t.”.
r.        Sumber kutipan yang diambil dari internet cara penulisarmya adalah: nama penulis, koma, judul artikel diapit tanda petik (“---“), koma, dalam, koma, nama situs koma, nomor halaman. Contoh:
22M. Ilyasin, “Kurikulum Berbasis Kompetensi”, dalam  http://www.stais.co.id., hlm.1.

3.      Daftar Kepustakaan
a.               Daftar pustaka merupakan keterangan mengenai bahan bacaan yang dijadikan rujukan dalam proses pembuatan skripsi.
b.              Daftar pustaka ditempatkan di akhir skripsi dengan jarak satu (1) spasi dan tidak menggunakan nomor urut. Sedangkan jarak antara dua sumber pustaka satu setengah (1,5) spasi;
c.       Daftar pustaka ditulis dengan urutan: nama pengarang (nama kedua), koma, nama lengkap (tanpa gelar), koma, judul buku dicetak miring (italic), koma, jilid atau volume, koma, tempat penerbitan, titik dua, mana penerbit, koma, tahun penerbitan, koma, nomor cetakan;
d.      Penulisan nama pengarang disusun secara alfabetik dengan mendahulukan nama keluarga dan marga (kalau ada) atau mana belakang, dan diketik pada ketukan pertama. Untuk singkatan mengikuti nama terakhir.
e.       Apabila informasi tentang buku/sumber rujukan itu melebihi satu baris, maka baris kedua dan berikutnya diketik mulai ketukan kelima. Contoh:

Faizin, Syaiful, “Kiat Memperoleh Anak Saleh dan Kompetitif”, Majalah Rindang, XXVII, No. 11, Juni, 2003.
Purwanto, Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991.
Sjamarah, Syaiful Bahri, Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam Keluarga: Sebuah Perspektif Pendidikan Islam, Jakarta: Rineka Cipta, 2004.
Soenarjo dkk., al-Qur’an dan Terjemahnya, Semarang: Toha Putra, 1989.
f.       Apabila penulis terdiri dari dua orang, maka nama kedua­-duanya ditulis, dihubungkan dengan kata “dan”, sedangkan untuk nama penulis pertama adalah mendahulukan nama belakangnya. Contoh:

Idris, Zahara dan Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan I, Jakarta: Grafindo, 1992.
g.      Apabila lebih dari dua orang, ditulis nama pertama dan diikuti kata “dkk.” (dan kawan-­kawan). Contoh:

Muhaimin, dkk., Paradigma Pendidikan Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001, Cet.1.

h.      Apabila ada dua karangan atau lebih berasal dari pengarang yang sama, maka narna pengarang dicantumkan satu kali, lainnya cukup diganti dengan garis sepanjang lirna ketukan dari garis margin kiri (tulisan latin) dan margin kanan (bahasa Arab) dan diikuti oleh koma, dengan ketentuan mendahulukan sumber pustaka yang lebih dahulu tahun penerbitannya. Contoh:

Sukardi, Dewa Ketut, Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Bina Aksara, 1988.
-------, Proses Bimbingan dan Penyuluhan, Jakarta: Rineka Cipta, 1995.

i.        Apabila berupa buku terjemahan maka ditulis pengarang yang asli, koma, judul buku asli, koma, kata “terj”, koma, penerjemah, koma, judul terjemahan, koma, tempat penerbit, titik dua, nama penerbit, koma, tahun terbit diakhiri dengan titik. Contoh:

M. ‘Utsman Najati, Al Qur’an wa ‘Ilmu al Nafs, terj. Ahmad Rofi’ Utsmani,  Al Qur’an dan Ilmu Jiwa,, Bandung: Pustaka, 1997, hlm.5

4.      Pedoman Transliterasi
Transliterasi dimaksudkan sebagai pengalih-hurufan dari abjad yang satu ke abjad yang lain. Transliterasi Arab-Latin di sini ialah penyalinan huruf-huruf Arab dengan huruf-huruf latin beserta perangkatnya. Pedoman transliterasi dalam skripsi ini meliputi :
a.       Konsonan

Huruf Arab
Nama
Huruf latin
ا
Alif
Tidak didefinisikan
ب
Ba
B
ت
Ta
T
ث
Sa
s\
ج
Jim
J
ح
Ha
H
خ
Kha
Kh
د
Dal
D
ذ
Zal
z\
ر
Ra
R
ز
Za
Z
س
Sin
S
ش
Syin
Sy
ص
Sa
s}
ض
Dad
d}
ط
Ta
t}
ظ

z}
ع
‘ain
غ
Gain
G
ف
Fa
F
ق
Qaf
Q
ك
Kaf
K
ل
Lam
L
م
Mim
M
ن
Nun
N
و
Wau
W
ها
Ha
H
ء
Hamzah
.’
ي
Ya
Y
ة
Ah
Ah
ة..
at, ah
at, ah

b.      Maddah
Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf/transliterasinya berupa huruf dan tanda, contoh:
قَالَ              dibaca qa>la
قِيْلَ              dibaca qi>la
يَقُوْلُ                        dibaca yaqu>lu

c.       Ta Marbut}ah
Translitrasinya menggunakan :
1)      Ta marbut}ah yang mati atau mendapat harakat sukun, transliterasinya h.
2)      Contoh : طَلْحَة             dibaca t}alhah
3)      Pada kata yang terakhir dengan ta marbut}ah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka ta marbut}ah itu ditransliterasikan dengan h.
Contoh : رَوْضَةُ اْلاَطْفَالِ dibaca  raud}ah al-at}fa>l
d.      Kata Sandang
Transliterasi kata sandang dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
a.       Kata sandang diikuti huruf syamsiah
Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, yaitu huruf yang sama dengan huruf yang langsung mengikuti kata sandang itu.
Contoh :   اَلرَّحِيْمُ           dibaca  ar-Rahi>mu
b.      Kata sandang diikuti huruf qamariah
Kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya.
Contoh :   اَلْمَلِكُ                        dibaca al-Maliku
e.       Penulisan kata
Pada dasarnya setiap kata, baik fi’il, isim maupun huruf, ditulis terpisah, hanya kata-kata tertentu yang penulisannya dengan huruf Arab sudah lazimnya dirangkaikan dengan kata lain. Karena ada huruf atau harakat yang dihilangkan, maka dalam translitarasi ini penulisan kata tersebut dirangkaikan juga dengan kata lain yang mengikutinya.
Contoh :
مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلاً         dibaca Man istat}a>’a ilaihi sabi>la
وَاِنَّ اللهَ لَهُوَ خَيْرٌ الرَّازِقِيْنَ     dibaca Wa innalla>ha lahuwa khair al-ra>ziqi>n

0 comments

Post a Comment