Tuesday, April 30, 2013

Teori Belajar Gestalt

PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang
Pengajaran  identik dengan pendidikan. Proses pengajaran adalah proses pendidikan. Setiap kegiatan pendidikan adalah untuk mencapai tujuan pendidikan. Pengajaran adalah suatu proses aktivitas mengajar belajar, di dalamnya terdapat dua obyek yang saling terlibat yaitu guru dan peserta didik.
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam melaksanakan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Adanya proses yang panjang dan tertata dengan rapi serta berjenjang akan memungkinkan belajar menjadi lebih baik dan efisien.
Teori belajar gestalt merupakan teori belajar yang di kembangkan oleh Max Wertheimer. Max Wertheimer (1880-1943) seorang yang dipandang sebagai pendiri dari Psikologi Gestalt, ia bekerjasama dengan dua temannya, yaitu Kurt Koffka (1886-1941) dan Wolfgang Kohler (1887-1967).
Bagi para ahli pengikut Gestalt, perkembangan itu adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu yang primer adalah keseluruhan, sedangkan bagian-bagian adalah sekunder, bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian daripada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lainnya, keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya. Bila kita bertemu dengan seorang teman misalnya, dari kejauhan yang kita saksikan terlebih dahulu bukanlah bajunya yang baru atau pulpennya yang bagus, atau dahinya yang terluka, melainkan justru teman kita itu sebagai keseluruhan, sebagai Gestalt.

B.       Rumusan Masalah
1.      Siapa Tokoh Teori Belajar Gestalt?
2.      Bagaimana Eksperimen yang dilakukan?
3.      Apa Saja Pokok Pikiran dalam teori belajar gestalt?
4.      Bagaimana Aplikasi dan Implikasi dalam Dunia Pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN
A.       Pengertian Teori Gestalt
Istilah Gestalt merupakan istilah bahasa Jerman yang sukar dicari terjemahannya dalam bahasa lain. Arti Gestalt bisa bermacam-macam sekali, yaitu form, shape (bahasa Inggris) atau bentuk, hal, peristiwa, hakikat, esensi, totalitas. Terjemahannya dalam bahasa Inggris pun bermacam-macam antara lain shape psychology, configurationism, whole psychology. Karena adanya kesimpangsiuran dalam penerjemahannya, akhirnya para sarjana di seluruh dunia sepakat untuk menggunakan istilah ‘Gestalt’ tanpa menerjemahkan kedalam bahasa lain.[1]
Psikologi Gestalt merupakan salah satu aliran psikologi yang mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas, data-data dalam psikologi Gestalt disebut sebagai Fenomena (gejala).  Fenomena adalah data yang paling dasar dalam Psikologi Gestalt. Dalam hal ini Psikologi Gestalt sependapat dengan filsafat fenomonologi yang mengatakan bahwa suatu pengalaman harus dilihat secara netral. Dalam suatu fenomena terdapat dua unsur yaitu obyek dan arti. Obyek merupakan sesuatu yang dapat dideskripsikan, setelah tertangkap oleh indera, obyek tersebut menjadi suatu informasi dan sekaligus kita telah memberikan arti pada obyek itu.[2]
Menurut koffka, gestalt adalah pertemuan gejala-gejala yang tiap-tiap anggotanya hanya mempunyai sifat atau watak dalam hubungannya dengan bagian-bagiannya, sehingga merupakan suatu kesatuan yang mengandung arti, dan tiap-tiap bagian mendapat arti dari keseluruhan itu. Yang primer gestalt adalah bukan bagian-bagian. Bagian-bagian itu sendiri tidak ada. Sebab gestalt tidak terjadi dari jumlah bagian-bagian. Artinya di dalam gestalt, tidak mungkin bagian-bagian itu berdiri sendiri.[3]
Gestalt  adalah keseluruhan dalam satu kesatuan dan kebulatan atau totalitas yang mempunyai arti penuh dimana tiap-tiap bagian mendukung bagian-bagian yang lain, serta, mendapat arti dalam keseluruhan. Kofka  don Kohler berkesimpulan bahwa belajar bukanlah suatu perbuatan yang mekanistik. melainkan suatu perbuatan yang mengandung pengertian (insignt) dan maksud yang penuh. Belajar yang sebenarnya adalah “insightfull learning. Pemecahan masalah bukan melalul “trial and errnr “, melainkan dengan mcnggunakan akal dan pengertian inilah yang dinamakan perbuatan yang intelijen.[4]
Penganut aliran ini memandang bahwa belajar adalah Iebih dan sekedar pengembangan pola-pola yang rumit, seperti yang diajukan oleh penganut behavioristik tidak rnendapatkan hal-hal yang diketengahkan oleh penganut kognitifistik dengan mempertimbangkan bahwa kebanyakan belajar mungkin hanya secara memadai dijelaskan dalam batasan model berfikir atau proses kognitif.
B.       Tokoh Teori Belajar Gestalt
1.      Max Wertheimer (1880 – 1943)
Max Wertheimer adalah pendiri  aliran psikologi Gestalt yang Lahir di Praha. Jerman pada tanggal 15 ApiI 1880 dan meninggal di New York pada tanggal 12 Oktober 1943. Setelah tamat sekotah Gymnasium di Praha. Ia belajar hukum selama dua tahun, akan tetapi kemudian meninggalkan studi ini  dan lebih  menyukai filsafat. Ia lalu belajar di Universitas Praha, Berlin dan Wurzburg. tempat Ia memperoleh gelar Ph.D. Dia menerima tawaran di Frankfurt dan Berlin, tetapi kemudian meninggalkan Jerman pada tahun 1934 karena situasi potik saat itu. Dia kemudian bergaul dengan tokoh-tokoh New School for Social Research di New York City. Pada waktu itu 1910, ketika dia membuat penemuannya yang akhirnya menuntun dirinya untuk mendirikan aliran psikologi Gestalt.[5]
Ketika Ia melihat suatu stroboscope[6] di jendela suatu toko mainan, ia membelinya, bereksperimen dengan alat tersebut, dan meyakinkan diri sendari bahwa gerakan yang tampak jelas yang ditumbuhkan oleh penglihatan yang berturut-turut pada satu seri gambar itu, tidak mungkin bisa diterangkan atas basis strukturalisme. Bersama-sama dengan Köhler dan Koffka. Ia mengembangkan dan memformulasakan sistem Gestalt.
Tahun 1933, Wertheimer pergi ke Amerika Serikat untuk menyelamatkan diri dari berbagai masalah yang terjadi di Jerman. Tahun berikutnya, dia mulai mengajar di New School for Sosial Research di New York City. Ketika di sana, dia menulis buku terkenalnya. “Productive Thinking”, yang diterbitkan oleh anaknya, Michael Wertheimer, seorang psikolog yang sukses di jalannya, pada saat dia telah meninggal. Wertheimer meninggal pada tanggal 12 Oktober 1943 karena embolismekoroner (serangan jantung) di rumahya di New York.[7]
2.      Wolfgang Kohler (1887 – 1959)
Wolfgang kohler lahir pada tanggal 21 Januari 1887, di Reval, Estonia. Dia menerima gelar PhD-nya pada tahun 1908 dari University of Berlin. Kemudian dia menjadi asisten di Institut Psikologi Frankfurt, di mana dia bisa bertemu dan bekerja bersama Max Wertheimer.
Tahun 1913 Kohler beruntung mendapatkan tugas belajar ke Anthropoid Station, Tenerife di Kepulauan Canary, dan tinggal di sana sampai tahun 1920. Tahun 1917, dia menulis buku paling terkenalnya, “Mentality of Apes”.
Tahun 1922, Kohler menjadi ketua dan direktur laboraturium psikologi di University of Berlin, di mana Ia tinggal di sana sampai tahun 1935. Selama kurun waktu itu, pada tahun 1929, dia menulis “Gestalt Psikology”. Pada tahun 1935, dia pergi ke Amerika Serikat dan mengajar di Swarthmore sampai pensiun. Dia meninggal pada tahun 11 Juni 1967 di New Hampshire.[8]
3.      Kurt Koffka (1886 – 1941)
Kutr Koffka lahir pada tanggal 18 Maret 1886, di berlin. Dia menerima gelar PdH-nya dari University of Berlin pada tahun 1909, dan seperti halnya Kohler, dia juga menjadi asisten di Frankfurt.
Pada tahun 1911, Koffka pergi ke University of Giessen, dan mengajar di sana sampai tahun 1927. Ketika di sana, dia menulis buku “Grow of the Mind: An Introduction to Child Psikology” (1921). Pada tahun 1922, dia menulis sebuah artikel untuk Psikological Bulletin yang memperkenalkan program Gestalt kepada pembaca di Amerika Serikat. Tahun 1927, Koffka meninggalkan Amerika Serikat untuk mengajar di Smith Collage. Dia mempublikasikan “Principles of Gestalt Psycology” pada tahun 1935. Dia meninggal pada tahun 1941.[9]
C.       Eksperimen Yang Dilakukan
 Sultan (simpanse Kohler yang paling cerdik) berjongkok di depan jeruji, tetapi tidak dapat menggapai buah yang terletak di luar dengan hanya menggunakan galah pendek yang disediakan. Sebuah galah yang lebih panjang diletakkan di luar jeruji, kira-kira 2 meter pada satu sisi objek dan sejajar dengan jeruji. Objek tersebut tidak dapat digapai dengan tangan, tetapi dapat ditarik dengan satu galah kecil.
Sultan mencoba menggapai buah tersebut dengan galah yang lebih pendek. Karena tidak berhasil dia mencabut sepotong kawat yang jatuh dari jaringan sangkarnya, tetapi  inipun gagal. Kemudian dia melihat sekitarnya, (selalu terdapat pada bagian tes ini beberapa pause yang cukup lama selama binatang meneliti dengan cermat kawasan yang dapat diamati). Dia tiba-tiba memungut galah yang pendek sekali lagi, naik jeruji yang langsung berhadapan dengan galah panjang, kemudian dengan alat yang adapadanya menariknya dan terpeganglah galah panjang tersebut; alat itu diarahkan ke sasarannya (buah) yang akhirnya dia peroleh. Mulai dari saat matanya terpancang pada galah yang panjang, prosedurnya membentuk satu kestuan yang bertalian, tanpa kekosongan, dan walaupun upaya penggapaian galah yang lebih panjang yang beralatkan galah pendek merupakan tindakan yang lengkap dan berdiri sendiri, namun pengamatan menunjukkan tindakan itu terjadi segera setelah interval bimbang dan ragu - yaitu menatap sekelilingnya yang tanpa diragukan lagi mempunyai hubungan dengan tujuan akhirnya dan segera timbul dalam tindakan akhir mencapai tujuan.”[10]
Selain Eksperiman tersebut kohler juga membuat percobaan yang lain dengan objek yang sama. Adapun kronologi eksperimennya dalah sebagai berikut:[11]

Step-1: Simpanse dimasukkan sangkar dan di luar sangkar diletakkan pisang yang tidak akan mungkin dapat diraih jika hanya dengan tangan kosong. Dalam sangkar tersebut diletakkan tongkat, sehingga lama kelamaan simpanse dapat meraih pisang tersebut dengan bantuan tongkat.
Step-2: Sama dengan step-1, namun kali ini pisang diletakkan lebih jauh. Selain tongkat tadi diberikan tongkat tambahan yang dapat disambung. Dengan insight yang dimiliki, maka simpanse dapat meraih pisang tadi dengan bantuan tongkat yang disambung dengan tongkat kedua.
Step-3: Pisang diletakkan di atas sangkar dengan asumsi simpanse tidak akan dapat meraih dengan tinggi loncatnya. Lalu di sudut ruangan disediakan kotak, sehingga dengan kotak itu simpanse dapat meraih pisang.
Step-4: Sama dengan step-3, hanya jaraknya diperjauh dan disediakan kotak tambahan, sehingga simpanse dapat meraih pisang dengan bantuan kotak tambahan tersebut.

D.       Pokok Pikiran Teori Gestalt
1.      Prinsip Dasar Gestalt
a.       Interaksi antara individu dan lingkungan disebut sebagai perceptual field. Setiap perceptual field memiliki organisasi,  yang cenderung dipersepsikan oleh manusia sebagai figure and ground. Oleh karena itu kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia, bukan skill yang dipelajari. Pengorganisasian ini mempengaruhi makna yang dibentuk.[12]
b.      Prinsip-prinsip pengorganisasian :
·      Principle of Proximity : bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
·      Principle of Similarity  : individu akan cenderung mempersepsikan stimulus yang sama sebagai suatu kesatuan. Kesamaan stimulus itu bisa berupa persamaan bentuk, warna, ukuran dan kecerahan.
·      Principle of Objective Set : Organisasi berdasarkan mental set yang sudah terbentuk sebelumnya.
·      Principle of Continuity : Menunjukkan bahwa kerja otak manusia secara alamiah melakukan proses untuk melengkapi atau melanjutkan informasi meskipun stimulus yang didapat tidak lengkap.
·      Principle of Closure/ Principle of Good Form : Bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap. Orang akan cenderung melihat suatu obyek dengan bentukan yang sempurna dan sederhana agar mudah diingat.
·      Principle of Figure and Ground : Yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan  dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan ground (latar belakang). Prinsip ini  menggambarkan bahwa manusia secara sengaja ataupun tidak, memilih dari  serangkaian stimulus, mana yang dianggapnya sebagai figure dan mana yang dianggap sebagai ground.
·      Principle of Isomorphism : Menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas otak dengan kesadaran, atau menunjukkan adanya hubungan structural antara daerah-daerah otak yang terktivasi dengan isi alam sadarnya.
2.      Hukum – Hukum Belajar Gestalt
Asumsi bahwa hukum –hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar, maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu.Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized form) dan pola persepsi manusia . Pemahaman dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory.[13]
Pendirian aliran ini adalah keseluruhan lebih dan lain dari pada bagian-bagian, “keseluruhan itu timbul lebih dulu dari pada bagian-bagian”.Dalam belajar yang penting adalah penyesuaian pertama, yaitu mendapatkan response yang tepat, hal ini sangat tergantung pada pengamatan.
Dengan kata lain pemecahan problem sangat tergantung kepada pengamatan, apabila dapat melihat situasi itu dengan tepat maka problem  “pencerahan” dan dapat memecahkan problem itu.
Jadi inti pelajaran menurut aliran ini adalah mendapatkan “insight” artinya: dimengertinya persoalan, dimengertinya hubungan tertentu, antara berbagai unsur dalam situasi tertentu, hingga hubungan tersebut jelas dan akhirnya didapatkan kemampuan memecahkan problem, bukan mengulang-ulang bahan yang dipelajari.[14]
Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok , yaitu hukum Pragnaz, dan empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu, yaitu hukum–hukum keterdekatan, ketertutupan, kesamaan, dan kontinuitas.  Pragnaz adalah suatu keadaan yang seimbang. Setiap hal yang dihadapi oleh individu mempunyai sifat dinamis yaitu cenderung untuk menuju keadaan pragnaz tersebut. Empat hukum tambahan yang tunduk kepada hukum pokok, yaitu :
a.       Hukum keterdekatan
Hal-hal yang saling berdekatan dalam waktu atau tempat cenderung dianggap sebagai suatu totalitas.
b.      Hukum ketertutupan
Hal-hal yang cenderung menutup akan membentuk kesan totalitas tersendiri.    
c.       Hukum kesamaan
Hal-hal yang mirip satu sama lain, cenderung kita persepsikan sebagai suatu kelompok atau suatu totalitas. Contohnya :
O O O O O O O O O O O O O
X X X X X X X X X X X X X
O O O O O O O O O O O O O
Deretan bentuk di atas akan cenderung dilihat sebagai deretan-deretan mendatar dengan bentuk O dan X berganti-ganti bukan dilihat sebagai deretan-deretan tegak.
d.      Hukum kontinuitas
Orang akan cenderung mengasumsikan pola kontinuitas pada obyek-obyek yang ada. 
E.       Aplikasi dalam Dunia Pendidikan
1.      Belajar
Menurut teori Gestalt, belajar adalah proses mengembangkan insight. Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Berbeda dengan teori behavioristik yang menganggap belajar atau tingkah laku itu bersifat mekanistis, sehingga mengabaikan atau mengingkari peranan insight. Teori Gestalt justru menganggap bahwa insight adalah inti dari pembentukan  tingkah laku. Untuk memahami bagaimana sebenarnya insight itu terjadi, kita yang dipelajari.[15]
Sebelum membahas teori Gestalt  dalam proses belajar ada baiknya membahas prinsip-prinsip belajar menurut teori ini yaitu:[16]
a)      Belajar dimulai dari suatu keseluruhan. Keseluruhan yang menjadi permulaan, baru menuju ke bagian-bagian. Dari keseluruhan organisasi mata pelajaran menuju tugas-tugas harian yang beruntun. Belajar dimulai dari satu unit yang kompleks menuju ke hal-hal yang mudah dimengerti, deferensiasi pengetahuan dan kecakapan.
b)      Keseluruhan memberikan makna kepada bagian-bagian. Bagian-bagian terjadi dalam suatu keseluruhan. Bagian-bagian itu hanya bermakna dalam rangka keseluruhan tadi. Dengan demikian keseluruhan yang memberikan makna terhadap suatu bagian, misal : sebuah ban mobil hanya bemakna kalau menjadi bagian dari mobil, sebagai roda. Sebuah papan tulis hanya bermakna sebagai papan tulis kalau ia berada dalam kelas, sebuah tiang kayu hanya bermakna sebagai tiang kalau menjadi satu dari rumah dan sebagainya.
c)      Individuasi bagian-bagian dari keseluruhan. Mula-mula anak melihat sesuatu sebagai keseluruhan. Bagian-bagian dilihat dalam hubungan fungsional dengan keseluruhan. Tetapi lambat laun ia mengadakan deferensiasi bagian-bagian itu dari keseluruhan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil atau kesatuan yang lebih kecil contoh: mula-mula anak melihat mengenal wajah ibunya sebagai keseluruhan kesatuan. Lambat laun dia dapat memisahkan mana mata ibu, mana hidung ibu, mana telinga ibu, kemudian ia melihat bahwa wajah ibunya itu cantik atau jelek, atau menarik dan sebagainya.
d)     Anak belajar dengan menggunakan pemahaman atau insight. Pemahaman adalah kemampuan melihat hubungan-hubungan antara berbagai faktor atau unsur dalam situasi yang problematis, seperti simpanse dapat melihat hubungan antara beberapa buah kotak menjadi sebuah tangan untuk mengambil buah pisang karena ia sedang lapar

Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :[17]
a)      Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
b)      Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
c)      Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
d)     Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
e)      Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya
2.      Insight
Pemecahan masalah secara jitu yang muncul setelah adanya proses pengujian berbagai dugaan/kemungkinan. Setelah adanya pengalaman insight, individu mampu menerapkannya pada problem sejenis tanpa perlu melalui proses trial-error lagi. Konsep insight ini adalah fenomena penting dalam belajar, ditemukan oleh Koehler dalam eksperimen yang sistematis.
Timbulnya insight pada individu tergantung pada :[18]
a)      Kesanggupan
Kesanggupan berkaitan dengan kemampuan inteligensi individu.
b)      Pengalaman
Dengan belajar, individu akan mendapatkan suatu pengalaman dan pengalaman itu akan menyebabkan munculnya insight.
c)      Taraf kompleksitas dari suatu situasi
Semakin kompleks masalah akan semakin sulit diatasi
d)     Latihan
Latihan yang banyak akan mempertinggi kemampuan insight dalam situasi yang bersamaan
e)      Trial and Error
Apabila seseorang tidak dapat memecahkan suatu masalah, seseorang akan melakukan percobaan-percobaan hingga akhirnya menemukan insight untuk memecahkan masalah tersebut.

3.      Memory
Hasil persepsi terhadap obyek meninggalkan jejak ingatan. Dengan berjalannya waktu, jejak ingatan ini akan berubah pula sejalan dengan prinsip-prinsip organisasional terhadap obyek. Penerapan Prinsip of Good Form seringkali muncul dan terbukti secara eksperimental. Secara sosial, fenomena ini juga menjelaskan pengaruh gosip/rumor.
Pandangan Gestalt cukup luas diakui di Jerman namun tidak lama exist di Jerman karena mulai didesak oleh pengaruh kekuasaan Hitler yang berwawasan sempit mengenai keilmuan. Para tokoh Gestalt banyak yang melarikan diri ke AS dan berusaha mengembangkan idenya di sana. Namun hal ini idak mudah dilakukan karena pada saat itu di AS didominasi oleh pandangan behaviorisme. Akibatnya psikologi gestalt diakui sebagai sebuah aliran psikologi namun pengaruhnya tidak sekuat behaviorisme.[19]
F.        Implikasi Teori Gestalt
Pendekatan fenomenologis : menjadi salah  satu pendekatan yang eksis di psikologi dan dengan pendekatan ini para tokoh Gestalt menunjukkan bahwa studi psikologi dapat mempelajari higher mental process, yang selama ini dihindari karena abstrak namun tetap dapat mempertahankan aspek ilmiah dan empirisnya. Fenomenologi memainkan peran yang sangat penting dalam sejarah psikologi. Heidegger adalah murid Edmund Husserl (1859-1938), pendiri fenomenologi modern. Husserl adalah murid Carl Stumpf, salah seorang tokoh psikologi eksperimental “baru” yang muncul di Jerman pada akhir pertengahan abad XIX. Kohler dan Koffka bersama Wertheime yang mendirikan psikologi Gestalt adalah juga murid Stumpf, dan mereka menggunakan fenomenologi sebagai metode untuk menganalisis gejala psikologis Fenomenologi adalah deskripsi tentang data yang berusaha memahami dan bukan menerangkan gejala-gejala. Fenomenologi kadang-kadang dipandang sebagai suatu metode pelengkap untuk setiap ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan mulai dengan mengamati apa yang dialami secara langsung.
Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme: dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif, berfokus pada  higher mental process. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi, insight,dan problem solving beroperasi. Tokoh : Tolman (dengan Teori Sign Learning) dan Kohler (eksperimen menggunakan  simpanse sebagai hewan coba).[20]


  

BAB III
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Teori belajar psikologi Gestalt merupakan salah satu aliran psikologi yang mempelajari suatu gejala sebagai suatu keseluruhan atau totalitas. Sedangkan  data-data dalam psikologi Gestalt disebut sebagai Fenomena (gejala). Dimana fenomena adalah data-data yang mendasar dan hal ini sependapat dengan filsafat fenomologi yang mengartikan bahwa suatu pengalaman harus dilihat secara netral.
Dalam teori belajar gestalt terdapat prinsip interaksi individu dengan lingkungan serta prinsip pengorganisasian. Selain itu, dalam aplikasi prinsip teori belajar psikologi gestel meliputi pada belajar, insight, dan memory.  Teori belajar psikologi gestalt mempelajari suatu fenomena secara totatalitas dan merumuskan beberapa hukum diantaranya adalah hukum keterdekatan, hukum ketertutupan, hukum kesamaan, dan hukum kontiunitas, yang kesemua hukum itu tunduk pada hukum Pragnaz. Dengan demikian teori belajar psikologi gestalt dapat diterapkan dalam proses belajar sehingga lebih dapat memahami suatu gejala atau fenomena secara keseluruhan.
Makalah ini tentu jauh dari sebuah kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat diperlukan sebagai bahan perbaikkan kedepannya. Semoga dengan adanya makalah tentang Teori Belajar Gestalt ini mampu menambah khazanah keilmuan kita terkait dengan proses pelaksanaan pengajaran yang bermutu dengan kata lain memiliki nilai presensi berkualitas.








DAFTAR PUSTAKA
Atkinson, Rita L,  Richard C. Atkinson, dan Ernest R. Hilgard, pengantar psikologi (judul asli Introduction to Psychology) edisi ke8, jilid 1, Jakarta, Erlangga
Boeree, George,   Sejarah Psikologi : Dari Masa Kelahiran Sampai Masa Modern,  Jogjakarta : Prismasophie, 2005
Mustaqim, Psikologi Pen
didikan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008
Naisaban, Ladidlaus, Para Psikolog Terkemuka Dunia: Riwayat Hidup, Pokok Pikiran, Dan Karya, Jakarta: Grasindo 2004
Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran : Beroreintasi Standar Proses Pendidikan,  Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2006
Sujanto, Agus,  Psikologi Umum, Jakarta: Bumi Aksara, 2008
Suryabrata, Sumardi, Psikologi Pendidikan, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2006
Syaodih, Nana, Landasan psikologi pendidiksan, Bandung : Remaja Rosdakatya, 2008
Tim Pengembang ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu & Aplikasi Pendidikan: bagian 4 pendidikan lintas bidang, Bandung: PT.Imperial Bhakti Utama, 2007
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/02/teori-belajar/
http://andikayudhitiya.blogspot.com/2012/06/teori-belajar-kognitif-teori-gestalt.html
http://ayahalby.wordpress.com/2011/02/23/pengertian-belajar-menurut-psikologi-gestalt/
http://danangep.blogspot.com/2012/11/juzzjuzz.html
http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/03/teori-psikologi-gestalt-344793.html
http://mardhiyanti.blogspot.com/2010/04/teori-pembelajaran-menurut-aliran.html




                [1] http://mardhiyanti.blogspot.com/2010/04/teori-pembelajaran-menurut-aliran.html diakses 27/03/2013
                [2] http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/03/teori-psikologi-gestalt-344793.html diakses 27/03/2013
[3] Agus Sujanto, Psikologi Umum, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hal 171
[4] Tim Pengembang ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu & Aplikasi Pendidikan: bagian 4 pendidikan lintas bidang (Bandung: PT.Imperial Bhakti Utama, 2007) hal. 143
[5] Ladidlaus Naisaban, Para Psikolog Terkemuka Dunia: Riwayat Hidup, Pokok Pikiran, Dan Karya  (Jakarta: Grasindo 2004) , hal 397
[6] suatu kotak yang didalamnya terdapat dua buah garis yang satu tegak dan yang satu melintang. Jika kedua garis tersebut diperlihatkan secara bergantian terus menerus maka akan tampak seakan aska garis tersebut bergerak dari melintang menjadi tegak. Inilah yang disebut gerakan semu
[7] George Boeree,  Sejarah Psikologi : Dari Masa Kelahiran Sampai Masa Modern, (Jogjakarta : Prismasophie, 2005),  hal. 422
                [8] George Boeree,  Sejarah Psikologi : Dari Masa Kelahiran Sampai Masa Modern, (Jogjakarta : Prismasophie, 2005),  hal.423
                [9] George Boeree,  … Ibid, hal. 423
[10] Rita L. Atkinson, Richard C. Atkinson, dan Ernest R. Hilgard, pengantar psikologi (judul asli Introduction to Psychology) edisi ke8, jilid 1, (Jakarta,:Erlangga,T.th) hal. 327
[11] http://andikayudhitiya.blogspot.com/2012/06/teori-belajar-kognitif-teori-gestalt.html diakses 27/03/2013
                [12] Sumardi Suryabrata, Psikologi Pendidikan (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2006),  hal. 279
[13] Nana Syaodih, Landasan psikologi pendidiksan, (Bandung : Remajka Rosdakatya, 2008), hal. 170
[14] Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008),  hal . 58
                [15] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran : Beroreintasi Standar Proses Pendidikan,  (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2006), hal. 115
[16] http://ayahalby.wordpress.com/2011/02/23/pengertian-belajar-menurut-psikologi-gestalt/
[17] http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/02/teori-belajar/ diakses 27/03/2013
[18] http://danangep.blogspot.com/2012/11/juzzjuzz.html diakses 27/03/2013
[19] http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/03/teori-psikologi-gestalt-344793.html diakses 27/03/2013
[20] http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/03/teori-psikologi-gestalt-344793.html

1 comments

aan fai March 1, 2016 at 1:51 AM

Terimakasih atas artikel yang ditulisakan. sangat informatif

Post a Comment