PENDAHULUAN
I. Latar
Belakang
Dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi
di bidang kedokteran berkembang dengan pesat. Salah satunya adalah kemajuan
dalam teknik transplantasi organ. Transplantasi organ merupakan suatu teknologi
medis untuk penggantian organ tubuh pasien yang tidak berfungsi dengan organ
dari individu yang lain
Sejak kesuksesan transplantasi yang pertama kali berupa ginjal dari donor kepada pasien gagal ginjal pada tahun 1954, perkembangan di bidang transplantasi maju dengan pesat. Kemajuan ilmu dan teknologi memungkinkan pengawetan organ, penemuan obat-obatan anti penolakan yang semakin baik sehingga berbagai organ dan jaringan dapat ditransplantasikan
Ada beberapa alasan yang menolak akan transplantasi organ baik dari orang yang masih sehat sampai orang yang sudah meninggal. Hal ini dapat diperkuat dengan hadits Nabi SAW, “Mematahkan tulang mayat seseorang adalah sama berdosa dan melanggarnya dengan mematahkan tulang orang itu ketika ia masih hidup”
Dan ada juga yang mendukung pelaksanaan transplantasi organ, karena hal ini sama halnya dengan menolong sesama umat manusia terutama umat muslim, sesuai firman Allah swt “Dan saling tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu saling tolong monolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan” (Qs.Al-Ma’idah 2).
Dengan demikian, transplantasi organ masih banyak dipermasalahkan oleh kalangan medis maupun para ahli agama. Oleh karena itu dalam makalah ini akan dijelaskan hukum-hukum beserta alasan-alasan yang mendukung maupun yang menolak transplantasi organ ini.
Sejak kesuksesan transplantasi yang pertama kali berupa ginjal dari donor kepada pasien gagal ginjal pada tahun 1954, perkembangan di bidang transplantasi maju dengan pesat. Kemajuan ilmu dan teknologi memungkinkan pengawetan organ, penemuan obat-obatan anti penolakan yang semakin baik sehingga berbagai organ dan jaringan dapat ditransplantasikan
Ada beberapa alasan yang menolak akan transplantasi organ baik dari orang yang masih sehat sampai orang yang sudah meninggal. Hal ini dapat diperkuat dengan hadits Nabi SAW, “Mematahkan tulang mayat seseorang adalah sama berdosa dan melanggarnya dengan mematahkan tulang orang itu ketika ia masih hidup”
Dan ada juga yang mendukung pelaksanaan transplantasi organ, karena hal ini sama halnya dengan menolong sesama umat manusia terutama umat muslim, sesuai firman Allah swt “Dan saling tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu saling tolong monolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan” (Qs.Al-Ma’idah 2).
Dengan demikian, transplantasi organ masih banyak dipermasalahkan oleh kalangan medis maupun para ahli agama. Oleh karena itu dalam makalah ini akan dijelaskan hukum-hukum beserta alasan-alasan yang mendukung maupun yang menolak transplantasi organ ini.
2. Rumusan Masalah
a. Jelaskan pengertian transplantasi organ
tubuh ?
b. Apakah jenis –jenis transplantasi organ
tubuh ?
c. Jelaskan aspek hukum transplantasi
organtubuh ?
d. Bagaimana pandangan hukum islam tentang
transplantasi organ tubuh ?
PEMBAHASAN
A.
PengertianTransplantasi
Transplantasi adalah memindahkan alat atau
jaringan tubuh dari satu orang ke orang lain. Transplantasi organ dan jaringan
tubuh manusia merupakan tindakan medik yang sangat bermanfaat bagi pasien
dengan ganguan fungsi organ tubuh yang berat.[1]
Berdasarkan UU No. 23 tahun 1992 tentang
kesehatan, transplantasi adalah tindakan medis untuk memindahkan organ dan atau
jaringan tubuh manusia yang berasal dari tubuh orang lain atau tubuh sendiri
dalam rangka pengobatan untuk mengganti jaringan dan atau organ tubuh yang
tidak berfungsi dengan baik-baik.[2]
Donor adalah orang yang menyumbangkan alat
dan atau jaringan tubuhnya kepada orang lain untuk tujuan kesehatan. Donor organ
dapat merupakan organ hidup ataupun telah meninggal. Sedangkan resipien adalah
orang yang akan menerima jaringan atau organ dari orang lain atau dari bagian
lain dari tubuhnya sendiri-sendiri.
Dalam dunia medis, masih sering ditemukan orang yang melakukan
transplantasi organ. Disamping kebutuhan jasmani, ada juga yang melakukan hal
tersebut dengan alasan kebutuhan ekonomi, yaitu dengan menjual organ yang
bertujuan untuk mendapatkan imbalan.[3]
B. Jenis-Jenis Transplantasi
Jika ditinjau dari sudut penyumbang atau
donor alat dan atau jaringan tubuh, maka transplantasi dapat dibedakan menjadi
:
1. Transplantasi dengan donor hidup
Transplantasi dengan donor hidup adalah
pemindahan jaringan atau organ tubuh seseorang ke orang lain atau ke bagian
lain dari tubuhnya sendiri tanpa mengancam kesehatan. Donor hidup ini dilakukan
pada jaringan atau organ yang bersifat regeneratif, misalnya kulit, darah dan
sumsum tulang, serta organ-organ yang berpasangan misalnya ginjal.
2. Transplantasi dengan donor mati atau jenazah
Transplantasidengan
donor matiataujenazahadalahpemindahan organ ataujaringandaritubuhjenazahketubuh
orang lain yang masihhidup. Jenis organ yang biasanyadidonorkanadalah organ
yang tidakmemilikikemampuanuntukregenerasimisalnyajantung, kornea, ginjaldanpancreas
Sedangkan ditinjau dari sudut penerima
organ atau resipien, maka transplantasi dapat dibedakan menjadi tiga:[4]
1. Autotransplantasi
Autotransplantasi adalah pemindahan suatu
jaringan atau organ ke tempat lain dalam tubuh orang itu sendiri-sendiri.
2. Homotransplantasi
Homotransplantasi adalah pemindahan suatu
jaringan atau organ dari tubuh seseorang ke tubuh orang lain2 Misalnya
pemindahan jantung dari seseorang yang telah dinyatakan meninggal pada orang
lain yang masih hidup.
3. Heterotransplantasi
Heterotransplantasi adalah pemindahan suatu
jaringan atau organ dari tubuh seseorang ke tubuh orang lain-lain. Contohnya pemindahan organ dari babi ke
tubuh manusia untuk mengganti organ manusia yang telah rusak atau tidak
berfungsi baik
C. Aspek hukum transplantasi
Dari segi hukum,transplantasi
organ,jaringan dan sel tubuh dipandang sebagai suatu hal yang mulia dalam upaya
menyehatkan dan mensejahterakan manusia,walaupun ini adalah suatu perbuatan
yang melawan hukum pidana yaitu tindak pidana penganiayaan.tetapi mendapat
pengecualian hukuman,maka perbuatan tersebut tidak lagi diancam pidana,dan
dapat dibenarkan.
Dalam PP No.18 tahun 1981 tentana bedah
mayat klinis, beda mayat anatomis dan transplantasi alat serta jaringan tubuh
manusia tercantum pasal tentang transplantasi sebagai berikut:
1. Pasal 1
Alat tubuh manusia adalah kumpulan
jaringan-jaringa tubuh yang dibentuk oleh beberapa jenis sel dan mempunyai
bentuk serta faal (fungsi) tertentu untuk tubuh tersebut. Jaringan adalah
kumpulan sel-sel yang mmempunyai bentuk dan faal (fungsi)yang sama dan
tertentu.
2. Pasal 10.
Transplantasi organ dan jaringan tubuh
manusia dilaukan dengan memperhatikan ketentuan yaitu persetujuan harus
tertulis penderita atau keluarga terdekat setelah penderita meninggal dunia.
3. Pasal 11
Transplantasi organ dan jaringan tubuh
hanya boleh dilakukan oleh dokter yang ditunjukolehmenteri kesehatan.
Transplantasi alat dan jaringan tubuh manusia tidak boleh dilakukan oleh dokter
yang merawat atau mengobati donor yang bersangkutan.
4. Pasal 12
Penentuan saat mati ditentukan oleh 2 orang
dokter yang tidak ada sangkut paut medis dengan dokter yang melakukan
transplantasi.
5. Pasal 13
Persetujuan tertulis sebagaimana
dimaksudkan yaitu dibuat diatas kertas materai dengan 2(dua) orang saksi.
6. Pasal 14
Pengambilan alat atau jaringan tubuh
manusia untuk keperluan transplantasi atau bank mata dari korban kecelakaan
yang meninggal dunia,dilakukan dengan persetujuan tertulis dengan keluarga
terdekat.
7. Pasal
15
a. Sebelum persetujuan tentang
transplantasi alat dan jaringan tubuh manusia diberikan oleh donor hidup,calon
donor yang bersangkutan terlebih dahulu diberitahu oleh dokter yang
merawatnya,termasuk dokter konsultan mengenai operasi,akibat-akibatya,dan
kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
b. Dokter sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) harus yakin benar ,bahwa calon donor yang bersangkutan telah meyadari
sepenuhnya arti dari pemberitahuan tersebut.
8. Pasal
16
Donor atau keluarga donor yang meninggal
dunia tidak berhak dalam kompensasi material apapun sebagai imbalan
transplantasi.
9. Pasal
17
Dilarang memperjual belikan alat atau
jaringan tubuh manusia.
10. Pasal 18
Dilarang mengirim dan menerima alat dan
jaringan tubuh manusia dan semua bentuk ke dan dari luar negeri.
Selanjutnya dalam UU No.23 tahun 1992
tentang kesehatan dicantumkan beberapa oasal tentang transplantasi sebagai
berikut:[5]
·
Pasal 33.
1. Dalam penyembuhan penyakit dan pemulihan
kesehatan dapat dilakukan transplantasi organ dan jaringan tubuh,transfuse
darah ,imflan obat dan alat kesehatan,serta bedah plastic dan rekontruksi.
2.Transplantasi organ dan jaringan serta
transfuse darah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan hanya untuk
tujuan kemanusiaan kemanusiaan yang dilarang untuk tujjuan komersial.
·
Pasal 34
1.Transplantasi organ dan jaringan tubuh
hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan untuk itu dan dilakukan disaran kesehatan tertentu.
2.Pengambilan organ dan jaringan tubuh dari
seorang donor harus memperhatikan kesehatan donor yang bersangkutan dan ada
persetujuan ahli waris atau keluarganya.
3. Ketentuan mengenai syarat dan tata cara
penyelenggaraan transplantasi sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) dan ayat
(2) ditetapkan dengan peraturan pemerintah.
D. pandangan islam tentang transplantasi organ
islamsangat menjunjung tinggi kemuliaan manusia. Baik yang hidup maupun sudah
mati. Sebab manusia memiliki banyak kelebihan, yang tidak dimiliki makhluk
lainnya. Manusia dikarunia postur tubuh yang sempurna, akal yang cerdas dan
kemampuan untuk mengatur alam semesta ini. Maka wajar jika Allah memuliakan
manusia atas makhluk lainnya. Dalam Firman Allah SWT dalam Alquran yang
artinya:
“dan sesungguhnya telah kami muliakan
anak-anak adam. Kami angkat mereka kedaratan dan dilautan. Kami beri mereka
rejeki yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna
atas kebanyakan makhluk lain yang telah kami ciptakan”.
Karena itulah, kita dilarang menginjak-injak martabat orang lain. Seseorang
tidak boleh merusak jiwa, perasaan, harga diri, dan hak orang lain. Bahkan
terhadap mayat sekalipun, tetap dilarang agama. Sebaliknya, kita wajib
melindungi dan memuliakannya. Rasullah SAW bersabda yang artinya :
“setiap orang muslim atas orang muslim yang lain
haram darah, harta, dan kehormatannya”.
Hadits ini mengajarkan kita bahwa seseorang tidak boleh mengorbankan orang
lain demi kepentingan dirinya sendiri. Jika dikaitkan dengan kasus
transplantasi, transplantasi ini merupakan langkah darurat. Teknik ini
dilakukan setelah semua jurus pengobatan tidak membawa hasil. Maka demi
keselamatan penderita, jalan satu-satunya adalah transplantasi. Jika tidak, maka
ancamannya jelas kematian. Seperti pada penderita gagal ginjal dan jantung.
Menanggapi hal ini, para ulama dari semua madzhab sepakat bahwa tidak boleh
memotong organ tubuh organ tubuh untuk dikonsumsi, ketika dalam kondisi
darurat. Karena hal itu merupakan tindakan perusakan. Makanya, tidak boleh
menghilangkan rasa lapar darinya dengan cara merusak tubuh orang lain.
Alasan ketidak bolehan, karena jelas-jelas transplantasi model ini menimbulkan
mafsadah bagi orang lain. Donor akan kehilangan salah satu organ tubuhnya.
Dengan demikian jika pengambilan organ tersebut tidak mengandung mafsadah,
berarti boleh-boleh saja. Maka dari itu transplantasi dari organ tubuh orang
lain tidak dilarang. Selama tidak menimbulkan mafsadah.[6]
KESIMPULAN
Dari pembahasan sebelumnya yang telah
dipaparkaan dapat disimpulkan bahwaTransplantasi adalah pencangkokan organ
tubuh yang telah rusak (sudah tidak berfungsi) dengan organ lain yang sejenis,
secara teknis dalam dunia medis ada 3 jenis transplantasi yaitu :
1. auto transplantasi : pencangkokan internal
dalam tubuh manusia.
2. homo transplantasi : donor dan resipein
sama-sama manusia.
3. hetero transplantasi : resipiennya manusia,
sementara donornya hewan.
Transplantasi menurut hukum Islam para ulama dari semua madzhab sepakat bahwa tidak boleh memotong organ
tubuh untuk dikonsumsi, ketika dalam kondisi darurat. Karena hal itu merupakan
tindakan perusakan. Makanya, tidak boleh menghilangkan rasa lapar darinya
dengan cara merusak tubuhya orang lain. demikian jika pengambilan organ
tersebut tidak mengandung mafsadah, berarti boleh-boleh saja. Maka dari itu
transplantasi dari organ tubuh orang lain tidak dilarang. Selama tidak
menimbulkan mafsadah.
DAFTAR PUSTAKA
Hasan, M. Ali, Masail piqhiyah Al-haditsah, Jakarta: PT Raja
Grapindo persada, 2000.
T. yanggo,H. Chuzaimah, A. Hafizanshary, Problematika hukum
islam, Jakarta : LSIK, 2002.
Aly, Ma’had, Fiqh Realitas, Jogyakarta: pustaka pelajar,
2005.
Hanafia,M.
Jusuf, Etika Kedokteran Dan Hukum Kesehatan, Jakarta : EGC, 2009.
[1] M. Ali hasan, Masail
piqhiyah Al-haditsah, (Jakarta: PT Raja Grapindo persada,2000), cet 4, hal
121
[2] H. Chuzaimah T. yanggo,
A. Hafizanshary, Problematika hukum islam, (Jakarta : LSIK, 2002), hal.
81
[3] M. Ali hasan, Masail
piqhiyah Al-haditsah, .... hal.122
[4] Ma’had Aly, Fiqh
Realitas, (Jogyakarta: pustaka pelajar, 2005), hal. 220
[6] Ma’had Aly, Fiqh Realitas...hal. 222
0 comments
Post a Comment