Mahasiswa KI'2010 Part 1

(A. Syaddad, Andi Munadi, Ari Maulana, Bakti Hamdani, Bayu Agung S, Darul Zulfi) (Desy Anggraini, Eka Febriyanti, Emelia Ikhsana, Fatkurohmanudin, Fitriani, Hepni Efendi)

Mahasiswa KI'2010 Part 2

(Imam Adi M, Intan Safitri, Joko Suseno, Lisda Nur A, Masnan, Muammar) (Mudfirudin, M Hasan Basri, M Akbar, M Fadliansyah, M Rasyid Ridho, Nanda Fajrul H)

Mahasiswa KI'2010 Part 3

(Normila, Nur Sodik, Nurul Qomariah, Puji Wulandari, Rab'ul Habibi, Ridho M.P) (Salasiah, Sitti Fatimah, Siwid Sutian, Taryuni, Titis Ratna Sari, Verdy Evansyah)

Mahasiswa KI'2010 Part 4

(Wahyu Fajriyadi, Zuhrotul Husniah, Akhsanul Khair, Eka Patmawati, Siti Hadijah, Siti Kholifah) (Najmatul Hilal, Aan Yusuf K, Indra Lukman, Ibrahim, A. Durori)

Showing posts with label Administrasi n Supervisi Pend. Show all posts
Showing posts with label Administrasi n Supervisi Pend. Show all posts

Thursday, August 30, 2012

COURSE OUTLINE Administrasi dan Supervisi Pendidikan

COURSE OUTLINE
Mata Kuliah            : Administrasi dan Supervisi Pendidikan
Jurusan                    : Tarbiyah                  
Prodi                         : Kependidikan Islam
Semester  /SKS        : IV (empat) /3
Dosen                        : Drs.H.Yahya.M.Pd
A.Diskripsi Mata Kuliah.
Mata kuliah ini mengkaji tentang konsep-konsep administrasi dan supervise pendidikan ,konsep tentang kepemimpinan ,dan dalam rangka mencapai  proses hasil belajar mengajar yang baik serta mencapai hasil kerja yang maksimal dengan efesien serta efektif.
B. Tujuan
Agar mahasiswa memahami serta mengerti dan mampu mengaplikasikan dalam bekerja terutama tentang administrasi,supervise serta menjadi seorang pemimpin yang baik sehingga dalam melaksanakan pekerjaannya dapat mencapai hasil yang maksimal sesuai dengan tujuan telah ditetapkan.
C.Materi.
1.Pengertian administrasi dan adminiatrasi pendidikan serta dasar administrasi.
2. Tujuan dan ruang lingkup garapan administrasi.
3. fungsi-fungsi  pokok administrasi pendidikan.
4. Latar belakang lahirnya supervise dan pengertian supervise pendidikan.
5. Tujuan dan fungsi supervise pendidikan
6. Jenis supervise dan prinsip supervise pendidikan
7.Cara melaksanakan supervise pendidikan
8. Langkah umum dalam supervise pendidikan
9. Konsep kepemimpinan dan definisi kepemimpinan
10.Dimensi kepemimpinan
11.Pendekatan dan model kepemimpinan
12.Tipe atau gaya serta sifat kepemipinan
13. Kepemimpinan Kepala sekolah dan tanggung jawab kepala sekolah.
14. Midel tes (Kuis).
D.Rencana perkuliahan.
No. : Pertemuan: Hari               : Jam                      : Materi
1.    I           :Selasa             :07.30-10.00    : Pengertian administrasi dan administrasi
                                                            pendidikanDan dasar administrasi
2.    II          :Selasa             :07.30-10.00   : Tujuan dan Ruang lingkup administrasi
3.   III         :Selasa             :07.30-10.00    :Fungsi  Pokon administrasi pendidikan
4.   IV         :Selasa             :07.30-10.00    :Latar belakang supervise & pengertian supervise
5.   V           :Selasa             :07.30-10.00    : Tujuan dan fungsi Supervisi pendidikan
6.   VI         :Selasa             :07.30-10.00    : Jenis supervise & prinsip supervise pendidikan
7.   VII        :Selasa             :07.30-10.00    ; Cara melaksanakan supervise pendidikan
8.   VIII      :Selasa             :07.30-10.00    :langkah umum dalam supervise pendidiklan
9.   IX         :Selasa             :07.30-10.00    : Konsep dan defenisi kepemimpinan
10.  X         :Selasa             :07.30-10.00    : Dimensi kepemipinan
11.  XI        :Selasa             :07.30-10.00    : Pendekatan atau model kepemipinan
12.  XII      :Selasa             :07.30-10.00    : Tipe atau gaya serta sifat kepemipinan
13.  XIII     :Selasa             :07.30-10.00    :Kepemipinan & tanggung jawab kepala sekolah
14.  XIV     :Selasa             :07.30-10.00    :Midel test (kuis)
           E.Pendekatan dan strategi pembelajaran
            Dalam prosen pembelajaran menggunakan pendekatan andragogi  (pembelajaran orang dewasa)yaitu dengtan menggali pengetahuan dan pengalaman mahasiswa ,dalam strategi pembelajaran  menggunakan active learning,yaitu memungkinkan mahasiswa berperan aktif dalam  proses perkuliahan.
           F.Ketentuan Makalah.
1. Makalah berisikan pendahuluan yang berisi tentang latar belakang ,masalah ,isi dan penutup
2. Makalah harus mencantumkan sumber refernsi minimal 6 buku
3. Makalah minimal 6 halaman
4. Makalah untuk dosen pengasuh satu dan arsip satu.
           G. Bahan Bacaan/referensi
Abdul Rasyid Dkk.Personal Guru dan Karyawan.Semarang.Depdiknas.2006
Abin Syamsuddin Makmun.Psychologi pedndidikan.Bandung.PT Rosda Karya Remaja.2003
Burhanuddin Yusak.Administrasi Pendidikan.Bandung.Balai Pustaka.2005
Daryanto.Administrasi Pendidikan.Jakarta,Renika Cipta.1998
Fidarta Made.Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan.Jakarta.Balai Pustaka.1999
Nawawi Haderi.Administrasi Pendidikan.Jakarta.gunung Agung.1997
Purwanto Ngalim.Administrasi dan supervise Pendidikan.Bandung.PT Rosda Karya Remaja.2007
Purwanto Dkk. Pedoman Khusus Bimbingan konseling.Jakarta.Dekdiknas.2004
Sahertian Dkk.Prinsip dan tehnik Supervisi Pendidikan.Bandung.Pustaka Setia.1994

Pengertian, tujuan dan fungsi administrasi pendidikan

A. Pengertian Administrasi
           Sondang P Siagian  MPA.PHD Administrasi keseluruhan proses kerja sama antara dua orang   atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
           Drs.The Liang Gie Administrasi adalah segenap rangkaian kegiatan penataan terhadap pekerjaan pokok yang dilaksanakan oleh sekolompok orang dalam bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.
           Drs.Soebari Trisna Administrasi adalah keseluruhan proses penyelenggaraan dalam usaha kerja sama dua orang atau lebih dengan secara rasional untuk mencapai tujuan yang telah dkitetapkan sebelumnya secara efesien.
           Depdinas RI Administrasi ialah usaha bersama untuk mendayagunakan semua sumber (personal maupun material) secara efektif dan efesien guna untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan.
B. Pengertian Administrasi Pendidikan
           Drs.M.Ngalim Purwanto Administrasi Pendidikan ialah segenap proses pengarahan dan penintegrasian segala sesuatu baik personal ,spiritual dan material yang bdersangkut paut dengan tercapainya tujuan pendidikan.
           Depdiknas RI Administrasi pendidikan adalah suatu proses kseleruhan kegiatan bersama dalam dalam bidang pendidikan yang meliputi perencanaan ,pengorganisasian ,pengarahan ,pengkoorcdinasiaan,pengawasan,pembiyaan dan pelaporan dengan menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang tersdia ,baik oersonal ,material maupun sepritual untuk mencapai tujuan pendidikan secara efesien dan efektif.
           Sedangkan menurut pendapat para ahli yang lainnya Adminitrasi pendidikan adalah suatu cara bekerja dengan orang –orang dalam rangka usaha mencapai tujuan pendidikan yang efektif ,yang berarti mendatangkan hasil yang baik dan tepat ,sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditentukan.atau administrasi pendidikan adalah semua kegiatan sekolah yang meliputi usaha-usaha besar seperti perumusan polis,pengarahan usaha ,koordinasi,konsultasi ,korespondensi,control dan seterusnya ,sampai kepada usaha-usaha kecil dan sederhana seperti menjaga sekolah ,menyapu halaman dan lain sebagainya .
           Dengan beberapa pengertian tersebut di atas ,mka perlu ditegaskan disini sebagai berikut;
a.    Bahwa seluruh administrasi pendidikan itu merupakan proses keseluruhan dan kegiatan-kegiatan bersama yang harus dilakukan oleh semua pihak yang ada sangkut pautnya dengan tugas-tugas pendidikan.
b.   Bahwa administrasi pendidikan itu mencakup kegiatan-kegiatan yang luas yang meliputi kegiatan perencanaan ,pengorganisasian,pengarahan dan pengawasan ,khususnya dalam bidang pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah.
c.    Bahwa administrasi pendidikan itu bukan hanya sekedar kegiatan tata usaha seperti dilakukan di kantor-kantor ,inspeksi pendidikan lainnya. 
C. C.  Dasar administrasi.
           Adapun dasar administrasi adalah sebagai berikut;
a.    Efesiensi,seorang administrasi akan berhasil dalam tugasnya bilamana dia   efesien dalam menggunakansemua sumber tenaga  dana dan fasilitas yang  ada.
b.   Prinsip pengelolaan,administrator akan memperoleh yang paling efektif dan efesien melalui orang lain dengan jalan melakukan pekerjaan menejemen yakni merencanakan ,mengorganisasikan,mengarahkan dan mengontrol.
c.    Prinsip mengutamakan tugas pengelolaan,maksudnya adalah sebagai petugas seorang administrator harus mengutamakan tugas pokonya ketimbang tugas  lain yang sifatnya penunjang.
d.   Prinsip kepemimpinan yang efektif yakni memperhatikan dimensi-dimensi   hubungan antar manusia (human  relationship) ,dimensi pelaksanaan tugas dan dimensi situasi(sikon) yang ada.
e.    Prinsip kerja sama,seorang administrator akan berhasil baik dalam tugasnya bila ia mampu mengemban kerja sama di antara orang-orang yang terlibat, baik secara horixontal maupun secara vertical.

D. Tujuan Administrasi  Pendidikan
           Tujuan administrasi pendidikan adalah agar semua kegiatan yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan. Kemudian menurut Sergiovani dan Carver  adalah efektivitas produksi,efesien,kemampuan menyesuaikan diri,dan kepuasan kerja.
           Sedangkan tujuan administrasi pendidikan di Indonesia yang dilaksanakan di sekolah juga bersumber dari tujuan pendidikan Nasional yang digariskan dalam GBHN adalah meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa,mempertinggi budi pekerti,atau memiliki kepribadian mempertebal semangat kebangsaan agar menjadi manusia pembangunan ,memiliki kecerdasan serta terampil.
E. Bidang Garapan administrasi.
a.    a. Administrasi tata laksana sekolah yang meliputi;
1.Organisasi dan Struktur
2.Otorisasi dan anggaran
3.Kepegawaian
4.Perlengkapan dan perbekalan
5.Keuangan dan pembukuan
6.Korespondensi/surat menyurat
7.Laporan
8.Pengangkatan,penempatan dan pemindahan serta pemberhentian
9.Pengisian buku pokok (induk) raport dsb.

b. Administrasi personal guru dan pegawai sekolah melipuiti;
     1. Pengangkatan dan penempatan guru
     2. Organisasi personal guru
     3. Masalah kepegawaian dan kesejahteraan guru
     4. Rencana orientasi bagi tenaga guru baru
     5. kondiute dan penilaian kemajuan guru
     6. Inserrvise training dan up-grading guru.
c. Administrasi murid melipuiti;
    1. Organisasi dan perkumpulan murid
    2. Masalah kesehatan dan kesejahteraan murid
    3. penilaian dan pengukuran murid
    4. Bimbingan dan penyuluhan.
d. Supervisi Pengajaran meliputi;
    1. Usaha membangkitkan dan merangsang semangat guru
    2. Usaha mengembanngkan,mencari dan menggunakan metode baru
    3. Mengusahakan cara-cara menilai hasil pendidikan dan pengajaran
    4. Usaha mempertinggi mutu dan pengalaman guru.
e.Pelaksanaan dan pembinaan kurikulum meliputi;
    1. Mempedomani dan merealisasikan apa yang tercantum dalam kurikulum
    2. Menyusun dan melaksanakan organisasi kurikulum beserta materi,sumber  Dan metode.
    3. Menuruti atau megikuti kurikulum yang sudah ada juga berhak atau boleh  Memilih atau menambah materi atau metode  yang sesuai dengan kebutuhan.
f. Pendirian dan perencanaan bangunan sekolah meliputi;
   1. cara memilih letak dan menentukan luas tanah yang dibutuhkan
   2. Mengusahakan merencanakan dan menggunakan pendirian gedung sekolah
   3. Menentukan jumlah dan luas ruangan kelas,kantor,asrama ,lapangan olah  Raga halaman sekolah dll.
   4. Cara penggunaan sarana dan prasarana serta pemeliharaannya dan lain2.
           g. Hubungan masyarakat meliputi;
            Hal ini hubungan antara sekolah dengan sekolah ,pemerintah/instransi yang Terkait,dan hubungan masyarakat pada umumnya.
           F. Fungsi fungsi Administrasi Pendidikan
           Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang fungsi administrasi pendidikan adalah sebagai berikut;’
1.Perencanaan.
           Setiap program ataupun konsepsi memerlukan perencanaan terlebih dahulu sebelum melaksanakan.Perencanaan adalah cara menghampiri masalah.Dalam penghampiran masalah itu si perencana berbuat merumuskan apa saja yang harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya.
           Perencanaan merupakan sarat mutlak bagi kegiatan administrasi,tanpa perencanaan suatu kegiatan akan mengalami kesulitan dan bahkan kegagalan dalam mencapai tujuan yang diinginkan .
           Didalam kegiatan perencanaan ada dua factor yang harus diperhatikan ,yaitu factor  tujuan  dan factor sarana ,baik sarana personal maupun sarana material.
           Sedangkan langkah-langkah dalam perencanaan meliputi;
a.    Menentukan dan merumuskan tujuan yang hendak dicapai.
b.   Meneliti masalah –masalah atau pekerjaan-pekerjaanyang akan dilakukan
c.    Mengumpulkan data-data dan informasi yang diperlukan.
d.   Menentukan tahap-tahap atau rangkaian tindakan.
e.    Merumuskan bagaimana masalah-masalah itu akan dipecahkan dan bagaimana pekerjaan-pekerjaan itu akan diselesaikan.
       Syarat-syarat perencanaan adalah sebagai berikut;
a.    Perencanaan harus didasarkan atas tujuan yang jelas.
b.   Bersifat sederhana ,realitas dan jelas.
c.    Terinci memuat segala uraian serta klasifikasi kegiatan dan rangkaian tindakan sehingga mudah dipedomani dan dijalankan.
d.   Memilki fleksibelitas sehingga mudah disesuaikan dengan kebutuhan serta situasi dan kondisi sewaktu-waktu.
e.    Terdapat pertimbangan antara bermacam-macam bidang akan digarap dalam perencanaan itu .Menurut urgensi masing-masing.
f.    Diusahakan adanya penghematan tenaga,biaya,dan waktu serta kemungkinan penggunaan sumber daya dan dana yang tersedia dengan sebaik-baiknya,
g.   Diusahakan agar sedapat mungkin tidak terjadi adanya duplikasi pelaksanaan.
Dengan kata lain perencanaan dapat berarti pula memikirkan tentang penghematan tenaga,biaya dan waktu,juga membatasi kesalahan –kesalahan yang mungkin terjadi dan menghindari adanya duplikasi-duplikasi atau tugas-tugas /pekerjaan rangkap yang dapat menghambat jalan penyelesaiannya.
2. Pengorganisasian.

           Pengorganisasian merupakan aktivitas menyusun dan membentuk hubungan-hubungan kerja antara orang-orang sehingga terwujudnya suatu kesatuan usaha dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
           Pengorganisasian sebagai fungsi adminiatrsi pendidikan menjadi tugas utama bagi para pemimpin pendidikan termasuk kepala sekolah,terutama dalam kegiatan sehari-hari di sekolah terdapat berbagai macam pekerjaan yang memerlukan kecakapan dan ketrampilan dan tanggung jawab yang berbeda-beda.
           Kemudian yang perlu diperhatikan dalam pengorganisasian antara lain ialah pembagian tugas,wewenang dan tanggung jawab ,hendaknya disesuaikan dengan pengalaman,bakat,minat,pengetahuan dan kepribadian masing-masing orang-orang yang diperlukan dalam menjalankan tugas.
           Fungsi Organisasi dapat diartikan bermacam-macam yaitu;
a.       Sebagai pemberi struktur terutama dalam penyusunan /penempatan personal,pekerjaan-pekerjaan materilan dan pikiran=pikirandi dalam struktur.
b.      Sebagai menetapkan hubungan antara orang –orang,kewajiban-kewajiban,hak-hak dan tanggung jawab masing-masing anggota disusun menjadi pola-pola kegiatan yang tertuju pada tercapainya tujuan .
c.       Sebagai alat untukmempersatukan usaha-usaha untuk menyelesaikan pekerjaan.       
Organisasi yang baik hendaklah memiliki cirri-ciri atau sifat sebagai berikut;
a.    Memiliki tujuan yang jelas.
b.   Tiap anggota memahami dan menerima tujuan tersebut.
c.    Adanya kesatuan arah sehingga dapat menimbulkan kesatuan tindakan dan  kesatruan pikiran.
d.   Adanya kesatuan perintah,para bahwahan hanya mempunyai seorang atasan langsung daripadanya ia menerima perintah atau bimbingan dan kepada siapa ia harus mempertanggung jawabkan hasil pekerjaannya.
e.    Adanya keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab masing-masing anggota.
f.    Adanya pembagian tugas atau pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan,keahlian dan bakat masing-masing.Sehingga dapat menimbulkan kerja sama yang harmonis dan kooperatif.

Pengkoordinasian,
     Adanya bermacam- macam tugas/pekerjaan yang dilakukan oleh banyak orang ,memerlukan adanya koordinasi dari seorang pemimpin.
     Adanya koordinasi yang baik dapat menghindarkan kemungkinan terjadinya persaingan yang tidak sehat atau kesimpang siuran dalam tindakan.
       Kita mengetahui bahwa rencana/program-program pendidikan yang harus di laksanakan di-sekolah-sekolah sifatnya sangat kompleks dan sangat mengandung banyak segi yang saling bersangkut paut satu sama lain.
     Sifat komplek yang dipunyai oleh program pendidikan di sekolah menunjukkan sangat perlunya tindakan-tindakan yang di koordinasi kan atau dengan kata lain koordinasi ialah aktivitas membawa orang-orang material.pikiran-pikiran,tehnik-tehnik,tujuan-tujuan kedalam hubungan yang harmonis dan produktif dalam mencapai suatu tujuan.
Komunikasi.
     Komunikasi dalam setiap bentuk adalah suatu proses yang hendak mempengaruhi sikap dan perbuatan orang-orang  dalam struktur organisasi.
     Kemudian didalam komunikasi diperlukan motivasi dengan memperhatikan unsure-unsur sebagai berikut;
1.   Adanya keinginan untuk berhasil.
2.   Kejelasan tindakan yang harus diambil/dianjurkan.
3.   Keyakinan bahwa perubahan yang dianjurkan akan membawa hasil positif.
4.   Keyakinan adanya kesempatan yang sama bagi semua anggota.
5.   Keinginan akan adanya kebebasan untuk menentukan ,menolak ataupun menerima apa yang dianjurkan.
6.   Adanya tendensi untuk menilai (berdasarkan moral dan etika yang dianutnya) apa yang dianjurkan  sebelum melaksanakan.
Supervisi.
     Setiap pelaksanaan program pendidikan memerlukan adanya pengawasan atau supervise,dimana pengawsan bertanggung jawab tentang kefektifan program.Oleh karena itu supervise haruslah meneliti ada tidaknya kondisi-kondisi yang akan memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan pendidikan.
Dengan kata kata lain fungsi terpenting supervise adalah sebagai berikut;
1.   Menentukan kondisi-kondisi atau syarat-syarat apakah yang diperlukan.
2.   Memenuhi/mengusahan syarat-syarat yang di perlukan .
Kepegawaian.
           Masalah yang diperlukan dalam didalam kegiatan-kegiatan kepegawaian ialah pemberian motivasi kepada para pegawai agar selalu bekerja giat,kesejahteraan pegawai,insentif dan penghargaan atau jasa-jasa mereka.Kondite dan bimbingan untuk  dapat lebih maju.kemudian adanya kesempatan untuk mengapgrade diri,masalah pemberhentian dan pensiun pegawai.
Pembiayaan.
           Pembiayaan ini dapat diibarakan bensin bagi sebuah mobil atau motor. Mengingat pentingnya biaya bagi setiap organisasi ,tanpa biaya yang mencukupi tidak mungkin terjamin kelancaran jalannya suatu organisasi.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembiayaan adalah sebagai berikut;
1.   Rencanakan tentang beberapa pembiayaan yang diperlukan,
2.    Dari mana dan bagaimana biaya itu dapat diperoleh/diusahakan.
3.   Bagaimana penggunaannya.
4.   Siapa yang melaksanakannya.
5.   Bagaimana pembukuan dan pertanggung jawabannnya.
6.   Bagaimana pengawasan dan lain-lain.
Penilaian.
     Evaluasi sebagai fungsi administrasi pendidikan adalah aktivitas untuk meneliti dan mengetahui sampai dimana pelaksanaan yang dilakukan didalam proses keseluruhan organisasi dalam mencapai hasil yang sesuai dengan rencana atau program yang telah ditetapkan dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan.Dengan kata lain supervise atau evaluasi selanjutnya dapat diusahakan bagaimana cara-cara memperbaikinya.

Pengertian Supervisi Pendidikan

LATAR BELAKANG LAHIRNYA SUPERVISI DAN PENGERTIAN SUPERVISI
Latar belakang adanya supervise adalah sebagai berikut;
1.      Adanya perubahan social dalam masyarakat
2.      Berkembangnya sains dan tehnologi
3.      Adanya urbanisasi dampak baru dalam pendidikan.
4.      Akibat adanya pertumbuhan ekonomi dan adanya daerah miskin dan kaya. 

A. Pengertian Supervisi.
     Dari sudut etimologi istilah supervisi berasal dari kata “Super”dan “Vision” super berarti lebih tinggi dalam peringkat vision posisinya dibanding dari orang yang lebih pandai.
     Sedangkan dari sudut sematik tidak terlepas dari perkembangan waktu ke waktu sebagaimana yang terjadi pada zaman penjajahan supervisi dilaksanakan seacara dictator sehubungan makna yang tersirat dalam supervisi yang dictator adalah untuk mencari kesalahan yang diperbuat guru yang digunakan untuk menentukan besar kecilnya gaji naik tidaknya pangkat guru yang bersangkutan.
     Sedangkan dizaman kemerdekaan pengertian supervisi adalah bantuan yang diberika supervisor kepada guru agar mengalami pertumbuhan secara maksimal dan integral baik profesi maupun pribadinya.
     Sedangkan menurut pendapat para ahli seperti Sergiovani supervisi adalah suatu proses yang digunakan oleh personalia sekolah yang bertanggung jawab terhadap aspek-aspek tujuan sekolah dan yang bergantung secara langsung kepada para personalia yang lain untuk menolong mereka menyelesaikan tujuan sekolah itu.
Sedangkan menurut Jones supervisi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari seluruh proses administrasi pendidikan yang telah ditunjukkan terutama untuk mengembangkan efektivitas personalia sekolah yang berhubungan dengan tugas-tugas utama dalam usaha-usaha pendidikan.
     Sedangkan menurut Robbins.Supervisi sebagai suatu aktivitas pengarahan langsung terhadap aktivitas-aktivitas bawahan.
     Sedangkan menurut Bordaman supervisi adalah suatu usaha mensetimulir,mengkordinir dan membimbing secara kontinu,pertumbuhan guru-guru sekolah baik secara individual maupun secara kolektif.            
B. Tujuan Supervisi
     Tujuan supervise adalah meningkatkan kinerja guru,membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan dan apa peran sekolah dalam mencapai tujuan tersebut.
C. Fungsi supervise
Menurut Sweringen fungsi supervise ada 8 yaitu;
1.Mengkordinasikan semua usaha sekolah
2.Melengkapi kepemimpinan sekolah
3.Memperluas pengalaman gutu-guru
4.Menstimulasi usaha-usaha yang kreatif
5.Memberikan pasilitas dan penilaian terus menerus
6.Menganalisa situasi belajar mengajar
7.Memberikan pengetahuan dan skill setiap anggota staf.
8.Mengintegrasikan tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan kemampuan mengajar guru .
D. Jenis-jenis supervise.
Secara garis besar jenis-jenis supervise ada 4 yaitu;
1.Supervisi yang bersifat korektif.
2.Supervisi yang bersifat preventif
3.Supervisi yang bersifat konstruktif
4.Supervivi yang bersifat koperatif.

Pendekatan dan Model Kepemimpinan

I.     Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Kepemimpinan merupakan faktor penting yang paling menentukan berjalan atau tidaknya suatu organisasi atau lembaga. Karenanya kepemimpinan merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi gagal atau tidaknya sebuah lembaga.[1]
Semua jenis pemimpin melakukan tugas kepemimpinannya sesuai dengan bidang garapnya. Bidang yang menjadi garapannya seringkali membedakan pemimpin satu dengan pemimpin lainnya. Dari sini dapat dimaklumi bahwa lahirnya pemimpin ada dimana mana, baik dalam komunitas besar maupun kecil. Fenomena ini menandakan bahwa tidak ada suatu kelompok masyarakat tanpa pemimpin, kalau memang di sana masih ada pihak-pihak yang dipengaruhi dan diarahkan.[2]
Perilaku pemimpin harus dapat mendorong kinerja staf dan para bawahannya dengan menunjukkan rasa bersahabat, dekat, dan penuh pertimbangan terhadap semua pihak, baik sebagai individu maupun kelompok.  Dengan demikian, keberadaan seorang pemimpin dalam setiap lembaga termasuk di dalamnya lembaga pendidikan dalam tugas dan fungsinya dituntut untuk memiliki kebijaksanaan dan wawasan yang luas, terampil dalam berbagai disiplin ilmu. Pola kepemimpinan pun juga akan berpengaruh dan bahkan menentukan terhadap kemajuan sebuah lembaga pendidikan.[3]
Terlebih dalam lembaga pendidikan Islam, selain memiliki wawasan dan kebijaksanaan, seorang pemimpin dituntut terampil dalam ilmu agama, mampu menanamkan sikap dan pandangan serta wajib menjadi suri tauladan pemimpin yang baik.[4]
Dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan kepemimpinan ada beberapa pendekatan yang dilakukan. Maka dari itulah kami menyusun makalah ini guna menambah wawasan dan menambah khasanah pengetahunan yang kaitannya dengan Pendekatan dan Model Kepemimpiann.
B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian Kepemimpinan?
2.      Pendekatan Kepemimpinan?
3.      Model Kepemimpinan?

II.  Pembahasan
A.    Pengertian
Kepemimpinan berasal dari kata pemimpin yang artinya seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.[5] Selain itu pemimpin dapat didefinisikan sebagai orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat, sikap, dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain.[6]
Sedangakn menurut Pancasila, Pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong, menuntun, dan membimbing asuhannya. Dengan kata lain, beberapa asas utama dari kepemimpinan Pancasila adalah: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani
Sedangkan Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk meneapai tujuan tertentu pada situasi tertentu. Kepemimpinan merupakan masalah sosial yang di dalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama, baik dengan cara mempengaruhi, membujuk, memotivasi dan mengkoordinasi.[7]


B.     Pendekatan Kepemimpinan
Yang dimaksud pendekatan kepemimpinan disini adalah sudut pandang terhadap kepemimpinan, yang mana pendekatan kepemimpinan ini ada 3 yaitu: Pertama, yaitu pendekatan sifat yang menfokuskan pada karakteristik pribadi pemimpin. Kedua, yaitu pendekatan perilaku dalam hubungannya dengan bawahannya. Ketiga, Pendekatan situasional, perilaku seorang pemimpin dengan karakteristik situasional.
1.    Pendekatan Sifat.
Keberhasilan seseorang pemimpin banyak ditentukan atau dipengaruhi oleh sifat-sifat yang dimiliki oleh pribadi si pemimpin. Jadi, menurut pendekatan ini, seseorang menjadi pemimpin karena sifat-sifatnya.[8]
Ada empat sifat umum yang mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, yaitu  :[9]
1.      Kecerdasan; pada umumnya pemimpin mempunyai tingkat kecerdasan lebih tinggi dibandingkan dengan yang dipimpin,
2.      Kedewasaan, pemimpin cenderung menjadi matang dan mempunyai emosi yang stabil serta perhatian yang luas terhadap aktivitas-aktivitas sosial,
3.      Motivasi diri dan dorongan berprestasi; pemimpin cenderung mempunyai motivasi yang kuat untuk berprestasi,
4.      Sikap hubungan kemanusiaan, pemimpin yang berhasil mau mengakui harga diri dan kehormatan bawahan.
2.    Pendekatan perilaku
Pendekatan perilaku berlandaskan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh gaya bersikap dan bertindak pemimpin yang bersangkutan. Gaya bersikap dan bertindak akan nampak dari cara melakukan sesuatu pekerjaan, antara lain akan nampak dari cara memberikan perintah, cara memberikan tugas, cara berkomunikasi, cara membuat keputusan, cara mendorong semangat bawahannya, cara memberikan bimbingan, cara menegakkan disiplin, cara mengawasi pekerjaan bawahannya, cara meminta laporan dari bawahannya, cara memimpin rapat, cara menegur kesalahan bawahannya, dan lain sebagainya.[10]
Apabila dalam melakukan kegiatan tersebut pemimpin menempuh dengan cara tegas, keras, sepihak, yang penting tugas selesai dengan baik, yang bersalah langsung dihukum, maka gaya kepemimpinan seperti itu cenderung dinamakan gaya kepemimpinan otoriter. Sebaliknya apabila dalam melakukan kegiatan tersebut pemimpin melakukannya dengan cara halus, simpatik, interaksi timbal balik, melakukan ajakan, menghargai pendapat, memperhatikan perasaan, membina hubungan serasi, maka gaya kepemimpinan ini cenderung dinamakan gaya kepemimpinan demokratis.
Pandangan klasik menganggap setiap pegawai itu pasif, malas, enggan bekerja, takut memikul tanggung jawab, tiada keberanian membuat keputusan, tiada bersemangat untuk menemukan berbagai cara kerja baru, bekerja berdasarkan perintah atasan semata-mata, melakukan pekerjaan dengan mengutamakan imbalan materi, sering mangkir dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal, sering memberikan laporan yang tidak sesuai dengan kenyataan, suka memfitnah, suka menipu diri sendiri.
Sebaliknya pandangan modern menganggap para pegawai itu sebagai manusia yang memiliki perasaan, emosi jiwa, kehendak yang patut dihargai, memerlukan hubungan serasi, perlu diperhatikan kebutuhannya, pada umumnya gemar bekerja, aktif, besar rasa tanggung jawabnya, rajin, disiplin, tinggi tingkat pengabdiannya, banyak gagasan baru, lebih menitikberatkan pada hal yang positif dalam hubungan dengan pihak lain.
Dua macam pandangan tersebut menimbulkan adanya gaya kepemimpinan yang berbeda. Pandangan klasik lebih mengutamakan gaya otoriter, sedang pandangan modern lebih mengutamakan gaya demokratis.[11]
3.    Pendekatan situasional
Pendekatan atau teori kepemimpinan ini dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard berdasarkan teori-teori kepemimpinan sebelumnya. Pada pendekatan ini didasarkan atas asumsi bahwa keberhasilan kepemimpinan suatu organisasi tidak hanya dipengaruhi oleh perilaku dan sifat-sifat pemimpin saja, karena tiap-tiap organisasi itu memiliki ciri-ciri khusus dan unik. Bahkan organisasi yang sejenispun akan menghadapi masalah yang berbeda karena adanya lingkungan yang berbeda, semangat dan watak bawahan yang berbeda.
Situasi yang berbeda-beda ini harus dihadapi dengan perilaku kepemimpinan yang berbeda pula. Karena banyaknya kemungkinan yang dapat dipakai dalam menerapkan perilaku kepemimpinan sesuai dengan situasi organisasi, maka pendekatan situasional ini disebut juga dengan pendekatan kontingensi; yang dapat berarti kemungkinan.[12]
Pendekatan situasional atau kontingensi didasarkan pada asumsi bahwa keberhasilan seorang pemimpin selain ditentukan oleh sifat-sifat dan perilaku pemimpin juga dipengaruhi oleh situasi yang ada dalam organisasi.[13]
C.    Model Kepemimpinan
1.      Model Kepemimpinan Kontingensi Fielder
Teori ini dikembangkan oleh Fiedler dan Chemers. Keberhasilan pemimpin bergantung pada diri pemimpin maupun kepada keadaan organisasi. Menurut Fiedler tak ada gaya kepemimpinan yang cocok untuk semua situasi, serta ada tiga faktor yang perlu dipertimbangkan, yaitu hubungan antara pimpinan dan bawahan, struktur tugas serta kekuasaan yang berasal dari organisasi
Berdasarkan tiga dimensi tersebut, Fiedler menentukan dua jenis gaya kepemimpinan dan dua tingkat yang menyenangkan. Pertama, gaya kepemimpinan yang mengutamakan tugas, yaitu ketika pemimpin merasa puas jika tugas bisa dilaksanakan. Kedua, gaya kepemimpinan yang mengutamakan pada hubungan kemanusiaan, hal tersebut menunjukkan bahwa efektifitas kepemimpinan bergantung pada tingkat pembauran antara gaya kepemimpinan dengan tingkat kondisi yang menyenangkan dalam situasi tertentu.
2.      Model  Kepemimpinan Tiga Dimensi
Teori ini dikemukakan oleh Reddin, seorang guru besar Universitas New Brunswick, Canada. Menurutnya ada tiga dimensi yang dapat dipakai untuk menentukan gaya kepemimpinan, yaitu perhatian pada produksi atau tugas, perhatian pada orang, dan dimensi efektifitas. Reddin mengatakan bahwa gaya tersebut dapat menjadi efektif dan tidak efektif, tergantung pada situasi. Gaya yang efektif yaitu:[14]
1)        Eksekutif.
Gaya ini banyak memberikan perhatian pada tugas-tugas pekerjaan dan hubungan kerja. Seorang Pimpinan yang menggunakan gaya ini disebut sebagai motivator yang baik, mau menetapkan standar kerja yang tinggi, berkehendak mengenal perbedaan diantara individu, dan berkeinginan menggunakan tim kerja dalam manajemen.
2)        Pecinta pengembangan (developer).
Gaya ini memberikan perhatian yang maksimum terhadap hubungan kerja, dan perhatian yang minimum terhadap tugas-tugas pekerjaan. Seorang Pimpinan yang menggunakan gaya ini mempunyai kepercayaan yang  tinggi terhadap orang-orang yang bekerja dalam organisasinya, dan sangat memperhatikan pengembangan mereka sebagai individu.
3)        Otokratis yang baik (Benevolent autocrat),
Gaya ini memberikan perhatian yang maksimum terhadap tugas, dan perhatian minimum terhadap hubungan kerja. Pimpinan  ini mengetahui secara tepat apa yang ia inginkan dan bagaimana memperoleh yang diinginkan tersebut tanpa menyebabkan ketidakseganan di pihak lain.
4)        Birokrat.
Gaya ini memberikan perhatian yang minimum baik terhadap tugas maupun hubungan kerja. Pimpinan ini sangat tertarik pada peraturan-peraturan dan menginginkan peraturan tersebut dipelihara serta melakukan control situasi secara teliti.

Sedangkan gaya yang tidak efektif yaitu:
1.      Pencinta kompromi (compromiser).
Gaya ini memberikan perhatian yang besar pada tugas dan hubungan kerja dalam suatu situasi yang menekankan pada kompromi. Pimpinan seperti ini merupakan pembuat keputusan yang tidak bagus karena banyak tekanan yang mempengaruhinya.
2.      Missionari.
Gaya ini memberikan penekanan yang maksimum pada orang-orang dan hubungan kerja, tetapi memberikan perhatian minimum terhadap tugas dan perilaku yang tidak sesuai. Pimpinan semacam ini hanya menilai keharmonisan sebagai suatu tujuan dalam dirinya sendiri.

3.      Otokrat.
Gaya ini memberikan perhatian maksimum terhadap tugas dan minimum terhadap hubungan kerja dengan suatu prilaku yang tidak sesuai. Pimpinan seperti ini tidak mempunyai kepercayaan pada orang lain, tidak menyenangkan, dan hanya tertarik pada pekerjaan yang segera selesai.
4.      Deserter (Lain dari tugas).
Gaya ini sama sekali tidak memberikan perhatian baik pada tugas maupun pada hubungan kerja. Dalam situasi tertentu gaya ini tidak begitu terpuji, karena Pimpinan seperti ini menunjukkan sikap positif dan tidak mau ikut campur secara aktif dan positif.
3.      Model  kepemimpinan Situasional
Teori ini merupakan pengembangan dari model kepemimpinan tiga dimensi, yang didasarkan pada hubungan antara tiga faktor, yaitu perilaku tugas (task behavior), perilaku hubungan (relationship behavior) dan kematangan (maturity). Perilaku tugas merupakan pemberian petunjuk oleh pemimpin terhadap anak buah meliputi penjelasan tertentu, apa yang harus dikerjakan, bilamana, dan bagaimana mengerjakannya, serta mengawasi mereka secara tepat.
Perilaku hubungan merupakan ajakan yang disampaikan oleh pemimpin melalui komunikasi dua arah yang meliputi mendengar dan melibatkan anak buah dalam pemecahan masalah. Adapun kematangan adalah kemampuan dan kemauan anak buah dalam mempertanggungjawabkan pelaksanan tugas yang dibebankan kepadanya. Dari 3 faktor tersebut, tingkat kematangan anak buah merupakan faktor yang paling dominan.
Menurut teori ini gaya kepemimpinan akan efektif jika disesuaikan dengan tingkat kematangan anak buah. Makin matang anak buah, pemimpin harus mengurangi perilaku tugas dan menambah perilaku hubungan. Apabila anak buah bergerak mencapai tingkat rata-rata kematangan, pemimpin harus mengurangi perilaku tugas dan perilaku hubungan. Selanjutnya, pada saat anak buah mencapai tingkat kematangan penuh dan sudah dapat mandiri, pemimpin sudah dapat mendelegasikan wewenang kepada anak buah.
Gaya kepemimpinan yang tepat untuk diterapkan dalam keempat tingkat kematangan anak buah dan kombinasi yang tepat antara perilaku tugas dan perilaku hubungan adalah sebagai berikut:[15]
1)   Gaya Mendikte (Telling). Gaya ini diterapkan jika anak buah dalam tingkat kematangan rendah, dan memerlukan petunjuk serta pengawasan yang jelas. Gaya ini disebut mendikte karena pemimpin dituntut untuk mengatakan apa, bagaimana, kapan, dan dimana tugas dilakukan. Gaya ini menekankan pada tugas, sedangkan hubungan hanya dilakukan sekedarnya saja.
2)   Gaya Menjual (Selling). Gaya ini diterapkan apabila kondisi anak buah dalam taraf rendah sampai moderat. Mereka telah memiliki kemauan untuk melakukan tugas, tetapi belum didukung oleh kemampuan yang memadai. Disebut menjual karena pemimpin selalu memberikan petunjuk yang banyak. Dalam tingkat kematangan anak buah seperti ini, diperlukan tugas serta hubungan yang tinggi agar dapat memelihara dan meningkatkan kemauan yang telah dimiliki.
3)   Gaya Melibatkan Diri (Participating). Gaya ini diterapkan apabila tingkat kematangan anak buah berada pada taraf kematangan moderat sampai tinggi. Mereka mempunyai kemampuan, tetapi kurang memiliki kemauan kerja dan kepercayaan diri. pemimpin dengan anak buah bersama-sama berperan di dalam proses pengambilan keputusan. Dalam kematangan seperti ini, upaya tugas tidak diperlukan, namun upaya hubungan perlu ditingkatkan dengan membuka komunikasi dua arah.
4)   Gaya Mendelegasikan (Delegating). Gaya ini diterapkan jika kemampuan dan kemauan anak buah telah tinggi. Gaya ini disebut mendelegasikan karena anak buah dibiarkan melaksanakan kegiatan sendiri, melalui pengawasan umum.
Hal ini biasa  dilakukan jika anak buah berada pada tingkat kedewasaan yang tinggi. Dalam tingkat kematangan seperti ini upaya tugas hanya diperlukan sekedarnya saja, demikian pula upaya hubungan.

III.    Kesimpulan
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk meneapai tujuan tertentu pada situasi tertentu. Kepemimpinan merupakan masalah sosial yang di dalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama, baik dengan cara mempengaruhi, membujuk, memotivasi dan mengkoordinasi.
Yang dimaksud pendekatan kepemimpinan disini adalah sudut pandang terhadap kepemimpinan, yang mana pendekatan kepemimpinan ini ada 3 yaitu:
·      Pertama, yaitu pendekatan sifat yang menfokuskan pada karakteristik pribadi pemimpin.
·      Kedua, yaitu pendekatan perilaku dalam hubungannya dengan bawahannya.
·      Ketiga, Pendekatan situasional, perilaku seorang pemimpin dengan karakteristik situasional.
Ada tiga model Kepemimpinan yaitu:
1.      Model Kepemimpinan Kontingensi Fielder
2.      Model  Kepemimpinan Tiga Dimensi
3.      Model  kepemimpinan Situasional

Daftar Pustaka
Direktorat Dikmenjur, Panduan Manajemen Sekolah, Jakarta : Depdiknas, t.tp.
Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan Jakarta: RajaGrafindo Persada 1994
Kartodirdjo Sartono, Kepemimpinan dalam Dimensi Sosial, Jakarta : LP3ES, 1990
Mulyasa,E, Manajemen Berbasis Sekolah, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002
Nasir, M. Ridwan, Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005
Purwanto Ngalim, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008
Sukamto, Kepemimpinan Kyai dalam Pesantren, Jakarta : LP3S, 1999
http://emperordeva.wordpress.com/about/makalah-tentang-kepemimpinan/
http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/copywriting/2163774-gaya-kepe mim pinan-tiga-dimensi-dari/
http://kepemimpinan-fisipuh.blogspot.com/2009/03/pengertian-pemimpin-dal am-bah asa.html 
http://novian-r-p-fisip08.web.unair.ac.id/artikel_detail-37614-Asas%20asas %20 Manajemen-Pendekatan%20Perilaku%20 Kepemimpinan. html
http://www.asrori.com/2011/04/pengertian-kepemimpinan-situasional.html
http://www.bintan-s.web.id/2011/04/pendekatan-kepemimpinan-berdasarkan.html



[1] Sukamto, Kepemimpinan Kyai dalam Pesantren, (Jakarta : LP3S, 1999), hal 19
[2] Sartono Kartodirdjo, Kepemimpinan dalam Dimensi Sosial, (Jakarta : LP3ES, 1990), hal. 7
[3] Direktorat Dikmenjur, Panduan Manajemen Sekolah, (Jakarta : Depdiknas, t.tp.), hal 8
[4] M. Ridwan Nasir, Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005), hal 130
[5] Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan (Jakarta: RajaGrafindo Persada 1994)hal. 181
[6] http://emperordeva.wordpress.com/about/makalah-tentang-kepemimpinan/
[7]http://kepemimpinan-fisipuh.blogspot.com/2009/03/pengertian-pemimpin-dalam-bahasa.html  dakses pada 30 april 2012 pukul 20.00 WITA
[8]Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008) hal. 31
[9] http://www.bintan-s.web.id/2011/04/pendekatan-kepemimpinan-berdasarkan.html
[10] Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008) hal. 32
[11]http://novian-r-p-fisip08.web.unair.ac.id/artikel_detail-37614-Asas%20asas%20 Manaj emen -Pendekatan%20Perilaku%20Kepemimpinan.html
[12] http://www.asrori.com/2011/04/pengertian-kepemimpinan-situasional.html
[13] Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan… op.cit hal.38
[14]http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/copywriting/2163774-gaya-kepemimpinan-tiga-dimensi-dari/
[15] E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002) hal. 116